Debu Vulkanik Selimuti Sebesi Warga Butuh Pelindung Mata dan Napas

Fokus, Nasional, Regional43 Dilihat

Lampung Selatan – Abu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau kembali menyelimuti permukiman warga di Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, sejak Senin (26/10/2026). Kondisi ini membuat penduduk setempat mendesak bantuan tambahan berupa masker serta kacamata pelindung guna menunjang aktivitas sehari-hari di tengah paparan debu yang terus berlangsung.

Sekretaris Desa Tejang Riko Iswanto mengungkap bahwa imbauan penggunaan masker telah disosialisasikan kepada warga sejak abu mulai menutupi area permukiman pada awal pekan ini. Ia memastikan stok masker di kalangan penduduk saat ini masih mencukupi kebutuhan. Meski demikian Riko berharap kebutuhan akan alat pelindung mata turut mendapat perhatian serius dari pihak terkait, mengingat warga tidak hanya membutuhkan perlindungan pernapasan melainkan juga perlindungan optik dari partikel abu yang beterbangan.

Kendati tertutup abu vulkanik sebagian warga Pulau Sebesi tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Pulau yang dihuni sekitar 2.700 hingga 2.790 jiwa ini memang dikenal sebagai permukiman berpenduduk yang letaknya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau, dengan jarak tempuh berkisar 15 hingga 20 kilometer dari pusat erupsi.

Terkait kondisi gunung api itu sendiri proses pemantauan visual Anak Krakatau belakangan menghadapi kendala tersendiri bertepatan dengan munculnya sebaran abu yang mencapai permukiman. Sebelumnya berdasarkan evaluasi Badan Geologi terhadap aktivitas gunung sepanjang 21 September hingga 9 Oktober 2026 tercatat adanya peningkatan skala rendah yang ditandai 14 kali erupsi hanya dalam rentang 6 hingga 9 Oktober saja. Merujuk hasil analisis tersebut status aktivitas Anak Krakatau pun dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga terhitung sejak 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB dan berlaku hingga kini.

Dengan status Siaga yang masih bertahan masyarakat khususnya di kawasan pesisir Rajabasa dan Pulau Sebesi diimbau terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga kemungkinan erupsi sekunder akibat kontak material panas dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Warga juga diminta tetap mengenakan masker setiap kali terjadi hujan abu guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan.

Perlu dicatat kondisi serupa sebenarnya bukan kali pertama dialami warga Pulau Sebesi. Pada pertengahan Agustus 2026 lalu sejumlah penduduk sempat mengeluhkan gangguan pernapasan dan iritasi mata akibat paparan abu vulkanik yang intens kala itu bahkan memicu Pemkab Lampung Selatan menyiagakan tim kesehatan khusus bagi warga pulau tersebut. Rangkaian erupsi yang kerap berulang ini membuat warga Sebesi terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman vulkanik sembari terus berharap pasokan alat pelindung diri dapat dipenuhi secara memadai oleh pemerintah daerah maupun pusat.

#AnakKrakatau #PulauSebesi #LampungSelatan #AbuVulkanik #StatusSiaga #BadanGeologi #ErupsiGunungApi #MitigasiBencana #SelatSunda #KesehatanWarga