China Turun Tangan Redam Panasnya Rencana Serangan Baru ke Iran

Jakarta – Pemerintah China kembali menunjukkan sikap berpihaknya terhadap Iran di tengah meningkatnya ancaman serangan baru yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengungkap bahwa Presiden Xi Jinping berencana mengirim utusan khusus ke kawasan Timur Tengah guna meredam eskalasi yang dinilai semakin mengkhawatirkan, sebagaimana disampaikan Selasa (27/10/2026).

Guo menjelaskan keputusan Beijing mengirim perwakilan tersebut diambil lantaran situasi di kawasan dinilai sudah sangat memprihatinkan. Langkah diplomatik ini muncul tak lama setelah beredar kabar bahwa Amerika Serikat tengah menyiapkan rencana serangan baru terhadap Iran begitu pemilihan umum sela Kongres AS rampung digelar pada awal November mendatang. Serangan yang dikabarkan akan dilancarkan tersebut disebut-sebut berpotensi melibatkan bom non-nuklir terkuat milik Washington yang dijuluki Mother of All Bombs atau GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), senjata yang kerap digadang-gadang mampu meluluhlantakkan fasilitas bawah tanah maupun situs nuklir strategis.

Media Al Jazeera turut melaporkan bahwa di tengah dinamika ini sejumlah pejabat tinggi kawasan seperti Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman Al Saud, Panglima Militer Pakistan Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin sempat bertemu langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pertemuan tersebut diduga membahas keamanan regional sekaligus upaya mendorong Teheran mencapai titik kompromi dengan Washington, meski menurut peneliti kebijakan luar negeri Arab Saudi Umer Karim pembahasan itu juga tak lepas dari kepentingan keamanan Riyadh sendiri.

Di sisi lain Iran sendiri tak gentar menghadapi ancaman tersebut. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hossein Mohebi menegaskan Teheran tengah menyiapkan senjata balasan baru yang dijuluki “Father of All Bombs” sebagai jawaban atas ancaman MOAB milik AS. “Kita sedang dalam tahap persiapan untuk mengungkap father of all bombs. Ini adalah sesuatu yang baru bagi musuh” tegas Mohebi tanpa merinci lebih jauh spesifikasi senjata tersebut.

Mohebi turut mengungkap adanya pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan Iran yang kini tidak lagi semata bersifat reaktif menunggu serangan lebih dulu melainkan mengarah pada kesiapan menyerang balik secara tegas dengan mengandalkan strategi peperangan asimetris. Ia memastikan Teheran akan membalas setiap bentuk agresi dengan tindakan setimpal apa pun bentuk tantangan yang dihadapi.

Dukungan China terhadap Iran sendiri bukan kali pertama terjadi sepanjang konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 tersebut. Beijing berulang kali menyerukan penghentian operasi militer AS dan Israel terhadap Iran serta mendesak penyelesaian konflik melalui jalur dialog dan diplomasi demi mencegah dampak lebih luas terhadap stabilitas ekonomi global dan keamanan energi dunia, termasuk kelancaran arus pelayaran internasional di Selat Hormuz.

#ChinaIran #XiJinping #DonaldTrump #KonflikIranAS #MotherOfAllBombs #FatherOfAllBombs #IRGC #DiplomasiTimurTengah #SelatHormuz #KrisisGeopolitik