CATATAN IQBAL MIAD MS, MBA, Pemimpin Umum
Bayangkan sebuah simfoni—indahnya nyanyian Sri Mulyani sebagai maestro fiskal yang telah memimpin orkestra keuangan Indonesia selama dua dekade—tiba-tiba diganti dengan nada baru oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Sebatas awakening kilat atau sinyal cambio besar?
Pada Senin, 8 September 2025, Presiden Prabowo Subianto merombak kabinet dan secara resmi menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Pasca pelantikannya, IHSG anjlok sekitar 1,3%, sementara rupiah justru menguat tipis 0,7%—refleksi kecemasan pasar sekaligus harapan akan ketenangan.
Sri Mulyani: Sang Penjaga Prasasti Fiskal
Sri Mulyani bukanlah figur sembarangan. Ia telah menjadi simbol kredibilitas fiskal—mengarungi krisis global, reformasi pajak, dan menjaga disiplin anggaran sepanjang era modern Indonesia. Begitu dikenal hingga diakui global.
Kini, sosok “penjaga prasasti” itu dicopot di tengah lahar protes rakyat—menuntut keadilan fiskal—dan rumahnya turut dirusak demonstran.
Purbaya Sadewa: Pakar di Balik Secarik Kopi Ekonomi
Purbaya menyatakan bahwa menuju inflasi tertib dan pertumbuhan cepat bukanlah hal mustahil. Ia menyebut angka 8% pertumbuhan ekonomi sebagai “bukan tidak mungkin”.
Sebelum menjadi Menkeu, ia telah menahkodai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pernah berperan sebagai Staf Khusus Presiden dalam masa krisis COVID-19, dan memiliki latar pendidikan kuat dari Purdue University.
Pertarungan Antara Harapan dan Ketakutan: Pandangan Analis
Pasar dan analis memperingatkan: penggantian ini bisa membuka celah bagi kebijakan fiskal yang lebih longgar. Ada potensi tekanan terhadap BI untuk lebih agresif mensubsidi program Presiden, seperti subsidi makan sekolah dan belanja pertahanan.
Analisis lain menampilkan kekhawatiran bahwa komitmen terhadap defisit maksimal −3% dari PDB bisa melemah—ditambah kekurangan rekam jejak Purbaya dalam mengelola fiskal runcing.
Sebagian berharap Purbaya justru melanjutkan warisan Sri Mulyani—fokus pada reformasi, penataan belanja, dan stabilitas fiskal.
– Jika Purbaya mampu bersinergi antara reformasi dan pertumbuhan yang hati-hati, maka Indonesia bisa tetap berkibar.
– Namun, jika berlebihan memenuhi ambisi tanpa payung fiskal kuat, anggaran bisa terombang-ambing seperti layar tertiup badai global.
Kisah ini bak pertunjukan sandiwara di panggung politik—dengan Sri Mulyani sebagai pemeran utama yang ditarik keluar, dan Purbaya memasuki adegan dengan bara optimisme 8 persen di tangannya. Kini, kita menunggu apakah lampu sorot penonton—pasar, rakyat, dan dunia—akan memberinya tepuk tangan atau melontarkan kritikan pedas.
Indonesia menanti—apakah gelombang baru ini akan membawa pelabuhan yang aman, atau mengibarkan bayangan masa depan fiskal yang genting? ***












