INDONESIA MULAI MENUA, GENERASI SANDWICH TERANCAM MAKIN TERHIMPIT BEBAN EKONOMI

Jakarta – Indonesia kini resmi memasuki fase populasi menua. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dan mengubah struktur demografi nasional. Hal ini membawa ancaman baru bagi kelompok usia produktif yang dikenal sebagai generasi sandwich. Mereka harus menanggung kebutuhan orang tua dan membiayai anak serta keluarga mereka sendiri.

Menurut data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk lansia Indonesia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi. Angka ini membuat Indonesia resmi menjadi negara dengan populasi menua.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa perubahan struktur usia penduduk Indonesia terjadi karena menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat.

Transisi demografi Indonesia terus berlangsung. Hal ini memunculkan kekhawatiran baru tentang meningkatnya beban ekonomi kelompok usia produktif. Generasi sandwich diperkirakan akan semakin besar jumlahnya karena semakin banyak lansia yang membutuhkan dukungan finansial dan perawatan di usia tua.

Istilah generasi sandwich merujuk pada orang-orang usia produktif yang berada di tengah himpitan dua generasi sekaligus: orang tua yang mulai lanjut usia dan anak-anak yang masih membutuhkan biaya hidup maupun pendidikan. Kondisi ini membuat banyak pekerja produktif sulit menabung, membeli rumah, hingga mempersiapkan dana pensiun mereka sendiri.

BPS mencatat rasio ketergantungan penduduk Indonesia pada 2025 mencapai 45,05 persen. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif kini harus menanggung sekitar 45 penduduk nonproduktif.

Kondisi ini dapat menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi sejak dini. Pengamat ekonomi menyebut Indonesia berpotensi mengalami tekanan ekonomi jangka panjang apabila bonus demografi tidak dimanfaatkan secara optimal sebelum populasi lansia melonjak lebih besar dalam dua dekade mendatang.

Budi Setiyono, Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, mengingatkan bahwa aging population tidak hanya berdampak pada sektor sosial, tetapi juga ekonomi nasional.

“Kalau tidak disiapkan, produktivitas menurun dan beban ekonomi meningkat,” kata Budi.

Fenomena serupa sudah terjadi di sejumlah negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan. Di Jepang, tingginya jumlah lansia membuat banyak desa mengalami kekurangan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi melambat. Pemerintah Jepang bahkan harus membuka keran tenaga kerja asing untuk menjaga sektor industri tetap berjalan.

Indonesia diperkirakan masih memiliki waktu sebelum memasuki puncak aging population pada 2045. Namun para ahli menilai persiapan harus dimulai sekarang, mulai dari reformasi sistem pensiun, penguatan jaminan sosial, hingga peningkatan kualitas tenaga kerja muda.

Selain tekanan finansial, generasi sandwich juga menghadapi beban mental dan emosional yang tidak ringan. Banyak pekerja usia produktif mengalami stres karena harus memenuhi kebutuhan keluarga besar di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

“Dampaknya bukan cuma ekonomi, tapi juga kesehatan mental dan kualitas hidup,” tulis BPS Surabaya dalam kajian mengenai generasi sandwich Indonesia.

Dampaknya bukan cuma ekonomi, tapi juga kesehatan mental dan kualitas hidup. Sejumlah survei menunjukkan generasi sandwich paling banyak berasal dari kelompok ekonomi menengah dan menengah bawah. Banyak dari mereka kesulitan membangun aset pribadi karena penghasilan habis untuk menopang kebutuhan keluarga lintas generasi.

Di sisi lain, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah strategi menghadapi populasi menua. Kemendukbangga/BKKBN mendorong program lansia aktif agar penduduk usia lanjut tetap sehat, mandiri, dan produktif lebih lama.

Pengamat kependudukan menilai Indonesia juga perlu memperkuat sistem perlindungan sosial dan layanan kesehatan lansia sebelum proporsi penduduk tua meningkat lebih besar. Tanpa kesiapan matang, generasi produktif dikhawatirkan akan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Aging population juga diprediksi akan memengaruhi pasar kerja, pola konsumsi masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi nasional. Jika jumlah usia produktif mulai menurun sementara populasi lansia meningkat, penerimaan pajak negara bisa ikut tertekan di masa depan.

Namun, para ahli menilai aging population bukan semata ancaman. Jika dikelola dengan baik, Indonesia masih bisa memanfaatkan bonus demografi saat ini untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, sistem keuangan, dan perlindungan sosial sebelum memasuki era populasi menua secara penuh.

Tantangan terbesar bukan sekadar bertambahnya jumlah lansia, melainkan bagaimana negara memastikan generasi produktif tidak runtuh di tengah himpitan tanggung jawab ekonomi yang semakin berat.

#GenerasiSandwich #BPS #AgingPopulation #GenerasiProduktif #Ekonomi