RUPIAH TERANCAM TEMBUS Rp 25.000 PER DOLLAR AS? INI PENYEBABNYA

Ekonomi, Fokus, Nasional390 Dilihat

Jakarta – Kebijakan pemerintah tentang ekspor sumber daya alam melalui satu pintu memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan analis ekonomi. Mereka khawatir kebijakan ini akan menekan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp25.000 per dolar Amerika Serikat jika dilakukan secara agresif tanpa kesiapan yang matang.

Pemerintah membentuk badan khusus bernama Danantara Sumberdaya Indonesia untuk menangani ekspor sumber daya alam secara terpusat. Tujuannya adalah untuk memperkuat kontrol devisa hasil ekspor, meningkatkan cadangan dolar, dan memperbesar penerimaan negara dari sektor komoditas strategis seperti batu bara, nikel, dan mineral lainnya.

Namun, pasar merespons negatif rencana tersebut. Investor asing mulai menunjukkan ketidaknyamanan terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia yang dianggap semakin tidak terprediksi. Kekhawatiran ini tercermin dari aksi jual investor asing di pasar saham dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ekonom dan analis pasar khawatir sistem ekspor satu pintu akan mengganggu arus masuk devisa jika proses transisi dilakukan terlalu cepat. Mereka khawatir mekanisme baru akan memperpanjang birokrasi ekspor dan memperlambat arus kas perusahaan energi serta pertambangan.

Dalam sebuah forum investasi, analis pasar Tjoe Ay memperingatkan bahwa kebijakan tersebut bisa berdampak serius terhadap penerimaan dolar AS Indonesia jika tidak diterapkan secara bertahap. Ia khawatir bahwa revenue dolar AS Indonesia akan menurun tajam jika kebijakan ini tidak dijalankan dengan hati-hati.

“Takutnya revenue dolar AS kita jeblok,” ujarnya.

Lembaga pemeringkat global S&P juga menyoroti keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai salah satu faktor risiko baru bagi stabilitas ekonomi nasional. S&P menyebut perubahan besar pada mekanisme ekspor sumber daya alam dapat menciptakan ketidakpastian kebijakan dan memengaruhi kepercayaan investor terhadap Indonesia.

Pasar khawatir kebijakan ekspor satu pintu akan menambah beban fiskal dan memperbesar risiko terhadap neraca pembayaran negara jika pelaksanaannya tidak berjalan efektif. Kondisi ini dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah yang saat ini sudah berada dalam tren pelemahan.

Data pasar menunjukkan rupiah mengalami tekanan cukup berat dalam beberapa pekan terakhir. Nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS dan menjadi salah satu mata uang terlemah di kawasan Asia.

Pemerintah tetap optimistis kebijakan ekspor satu pintu akan membawa manfaat jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto menyatakan sistem tersebut diperlukan agar negara dapat mengontrol devisa ekspor lebih optimal dan mencegah kebocoran pendapatan dari sektor sumber daya alam. Pemerintah menargetkan potensi devisa hingga US$150 miliar dapat diamankan lewat skema baru tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah tengah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, termasuk kebijakan Devisa Hasil Ekspor dan perluasan instrumen penempatan valas agar eksportir tetap memiliki fleksibilitas dalam transaksi internasional.

Namun, pelaku industri pertambangan dan energi meminta pemerintah berhati-hati dalam menjalankan kebijakan tersebut. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia menilai skema satu pintu bisa memperlambat proses bisnis dan mengurangi daya saing industri minerba nasional jika administrasi menjadi lebih panjang.

Investor kini menanti langkah lanjutan pemerintah serta respons Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Sejumlah analis memperingatkan bahwa komunikasi kebijakan yang tidak jelas dapat memperbesar kepanikan pasar dan mempercepat pelemahan rupiah dalam jangka pendek.

#RupiahMelemah #RupiahAnjlok #DollarMenguat #RupiahDollar #Danantara #Bank Indonesia