DUNIA TARIK NAPAS! AS-IRAN SEPAKAT BUKA SELAT HORMUZ, GENCATAN SENJATA DIPERPANJANG 60 HARI

Jakarta – AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan besar yang dapat menenangkan situasi di Timur Tengah. Dalam versi terbaru kesepakatan tersebut, tampaknya kedua negara telah sepakat untuk menjaga perdamaian selama 60 hari lagi dan mengaktifkan kembali Selat Hormuz, yang telah menjadi masalah besar dalam kekacauan energi dunia.

Kesepakatan ini pertama kali muncul di radar sejumlah sumber berita global, dengan orang-orang AS yang mengetahui seluk-beluk pembicaraan tersebut memberikan dukungan. Pembicaraan hampir selesai, hanya perlu persetujuan dari Presiden Trump dan Pemimpin Tertinggi Khamenei.

Bagian penting dari draf kesepakatan tersebut adalah tentang pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air penting yang merupakan rute utama untuk sekitar 20% minyak dunia. Sejak akhir Februari 2026, Iran telah memblokir akses ke wilayah tersebut, mengganggu pasokan energi dunia. Pasar

Rupanya, sebuah dokumen rahasia menunjukkan janji Iran untuk membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz dan membiarkan kapal internasional lewat tanpa biaya tambahan. Washington akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberi Teheran keringanan sanksi sehingga mereka dapat menjual minyak mereka tanpa hambatan selama gencatan senjata.

“Bantuan ekonomi akan mengikuti langkah-langkah konkret yang diambil oleh Iran,” kata seorang pejabat AS mengenai ketentuan perjanjian tersebut.

Selain minyak, kesepakatan itu juga membahas masalah sensitif aktivitas nuklir Iran. Dalam draf kesepakatan, Teheran seharusnya berhenti membuat senjata nuklir dan memulai pembicaraan tentang penghentian pengayaan uranium tingkat tinggi.

Namun, beberapa poin masih dalam diskusi intensif, termasuk mekanisme untuk mentransfer cadangan uranium Iran dan pencabutan permanen sanksi ekonomi AS. Otoritas Iran tampaknya telah meminta pencairan aset luar negeri mereka.

Situasi ini juga membuat orang-orang di Israel khawatir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan berjuang untuk memengaruhi Donald Trump, yang sekarang lebih terbuka terhadap diplomasi dengan Iran.

Sementara itu, Pakistan dikabarkan akan berperan sebagai perantara utama dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran. Beberapa pejabat militer dan diplomatik Pakistan diketahui aktif berkomunikasi secara intensif dengan kedua negara untuk memastikan kesepakatan tersebut tidak gagal di menit-menit terakhir.

Para ahli geopolitik memperkirakan bahwa jika kesepakatan ini benar-benar ditandatangani, hal itu akan mengguncang perekonomian dunia secara besar-besaran. Pembukaan Selat Hormuz seharusnya membantu menyeimbangkan pasokan minyak di seluruh dunia dan meredakan lonjakan harga energi yang mengguncang pasar selama ketegangan.

Hingga saat ini, baik pemerintah AS maupun Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi final tentang penandatanganan perjanjian tersebut. Beberapa sumber diplomatik menyatakan bahwa negosiasi masih dapat berubah sewaktu-waktu jika salah satu pihak menarik dukungan politik terhadap ketentuan perjanjian tersebut.

#PerjanjianDamai #Iran #Israel #AmerikaSerikat #Khamenei #DonaldTrump #BenjaminNetanyahu