Jakarta – Ketegangan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga meluas ke ruang digital. Dalam beberapa bulan terakhir, media sosial dipenuhi berbagai narasi provokatif, propaganda politik, hingga ujaran kebencian yang menyerang kelompok tertentu terkait konflik Timur Tengah.
Sejumlah unggahan viral di berbagai platform memuat tuduhan bahwa ada kelompok tertentu di negara lain yang menjadi “corong propaganda” bagi kepentingan asing. Narasi tersebut kerap dibungkus dengan sentimen agama, teori konspirasi, hingga serangan terhadap identitas etnis dan kelompok tertentu. Pengamat menilai fenomena ini berbahaya karena dapat memicu polarisasi sosial dan menyebarkan disinformasi di tengah masyarakat.
Konflik Iran dan Israel sendiri memang berkembang menjadi perang narasi global. Selain serangan militer dan diplomasi internasional, kedua pihak juga aktif membangun opini publik melalui media sosial, video propaganda, hingga kampanye digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Laporan sejumlah media internasional menyebut Iran secara agresif memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan pesan anti-Israel dan anti-Amerika. Konten propaganda itu dibuat dalam berbagai bentuk, mulai dari video animasi, meme, hingga visual AI yang menyasar audiens global, terutama generasi muda.
Di sisi lain, Israel dan sekutunya juga disebut aktif melakukan perang informasi untuk membangun dukungan internasional terhadap operasi militer mereka. Situasi ini membuat ruang digital dipenuhi banjir klaim sepihak, hoaks, dan propaganda dari berbagai kubu.
“Perang modern bukan hanya soal senjata, tapi juga perebutan opini publik,” kata seorang analis geopolitik Timur Tengah dalam laporan media internasional.
Fenomena tersebut turut berdampak ke Indonesia. Sejumlah unggahan viral yang beredar di media sosial Indonesia mulai menggunakan bahasa kasar, provokatif, hingga menyerang kelompok tertentu dengan label penghinaan. Beberapa narasi bahkan menyebut individu atau kelompok tertentu sebagai “antek asing” hanya karena memiliki pandangan berbeda terkait konflik Timur Tengah.
Pengamat komunikasi digital menilai penyebaran narasi ekstrem semacam itu dapat memperkeruh situasi sosial dan memancing kebencian berbasis identitas.
“Ketika konflik luar negeri dibawa ke ruang domestik dengan bahasa provokatif, risikonya adalah muncul polarisasi dan permusuhan antarkelompok di masyarakat,” ujar seorang pengamat media sosial.
Di tengah derasnya propaganda, masyarakat diminta lebih kritis dalam menerima informasi terkait perang Iran-Israel. Banyak konten viral yang ternyata tidak dapat diverifikasi kebenarannya atau telah dimanipulasi menggunakan teknologi AI. Bahkan, sejumlah laporan mengungkap adanya akun anonim dan jaringan propaganda yang sengaja dirancang untuk mempengaruhi opini publik dunia.
Ketegangan geopolitik ini juga memunculkan perdebatan global mengenai peran media sosial dalam konflik internasional. Platform seperti X, Instagram, TikTok, dan Telegram disebut menjadi arena utama penyebaran propaganda digital lintas negara.
Di Iran sendiri, pemerintah dilaporkan memperkuat propaganda nasionalisme dan perlawanan terhadap Israel di tengah konflik yang terus memanas. Namun di saat bersamaan, muncul pula kritik dari sebagian warga Iran yang merasa pemerintah terlalu fokus pada perang narasi dibanding kondisi ekonomi dan kebebasan sipil di dalam negeri.
Sementara itu, sejumlah negara Barat mulai meningkatkan pengawasan terhadap penyebaran disinformasi terkait konflik Timur Tengah. Para peneliti keamanan siber memperingatkan bahwa propaganda digital modern kini semakin sulit dibedakan dari informasi asli karena memanfaatkan teknologi AI dan manipulasi visual tingkat tinggi.
Pengamat hubungan internasional menegaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara kritik terhadap kebijakan negara dengan ujaran kebencian terhadap kelompok etnis atau agama tertentu. Menurut mereka, konflik geopolitik tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan permusuhan sosial di dalam negeri.
Di Indonesia, aparat dan lembaga pengawas digital juga diminta meningkatkan literasi media agar masyarakat tidak mudah terseret arus propaganda luar negeri yang berpotensi memecah belah publik. Konflik Timur Tengah yang semakin kompleks dinilai telah membuka babak baru perang informasi global, di mana opini publik menjadi salah satu medan pertempuran paling menentukan.






