Jakarta – Proyek gas raksasa Abadi Masela di Laut Arafura Maluku memasuki tahapan krusial setelah rampungnya proses perancangan teknis atau Front End Engineering Design (FEED) pada Oktober 2026. Capaian ini sekaligus menjadi pijakan baru bagi proyek bernilai investasi sekitar 22 miliar dolar AS tersebut untuk melangkah ke tahap Keputusan Investasi Akhir (Final Investment Decision/FID).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan hal tersebut dalam perayaan penyelesaian FEED Proyek LNG Abadi Masela di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Ia mengungkap proses tersebut berhasil dipercepat sekitar tiga bulan dari target awal yang semula ditetapkan rampung akhir 2026. “Alhamdulillah pekerjaan ini akhirnya dapat diselesaikan lebih cepat sekitar tiga bulan yakni pada Oktober 2026” ujarnya.
Djoko menegaskan rampungnya FEED bukan sekadar pencapaian teknis belaka melainkan fondasi penting untuk mematangkan desain, mempersiapkan pengadaan, serta mempercepat langkah menuju keputusan investasi. Pekerjaan yang terbilang kompleks ini mencakup sistem bawah laut, jaringan pipa ekspor gas, fasilitas penyimpanan dan pengapalan LNG, hingga fasilitas LNG lepas pantai yang membutuhkan koordinasi lintas kontraktor, konsorsium, dan berbagai pemangku kepentingan. Guna menjaga kualitas rancangan proyek ini turut menjalani kajian desain independen yang melibatkan lebih dari 200 tenaga ahli profesional bersama tiga perguruan tinggi yakni Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung.
Dari sisi target produksi proyek ini dirancang menghasilkan gas sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari, dengan output LNG mencapai 9,5 juta ton per tahun, pasokan 100 juta kaki kubik gas untuk kebutuhan domestik, serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari. Djoko menambahkan pengembangan Masela tidak semata soal peningkatan produksi gas melainkan juga terkait pemenuhan energi dalam negeri dan penciptaan nilai tambah ekonomi nasional. Ia turut menyinggung gas sebagai bagian dari transisi energi rendah emisi dengan menyebut tingkat emisinya sekitar 50 persen lebih rendah dibanding batu bara meski besaran tersebut tetap bergantung pada jenis emisi dan metode perbandingan yang digunakan.
Meski desain telah rampung perjalanan proyek masih panjang. Tahap selanjutnya menuntut kesiapan berbagai aspek mulai dari keputusan investasi, pengadaan barang dan jasa, hingga kesiapan kegiatan fisik di lapangan. Djoko mengungkap sejumlah dokumen pengadaan bahkan telah ditandatangani guna mendukung kelanjutan proyek sembari mengingatkan agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan agar tidak menghambat jadwal.
Perhatian turut diarahkan pada masyarakat terdampak langsung di mana pembangunan pagar perimeter dan jalan telah memasuki tahap pengerjaan sementara persiapan kompensasi sosial terus dikawal. Proyek yang sebelumnya telah menjalani seremoni peletakan batu pertama dihadiri Presiden Republik Indonesia pada Juli 2026 ini terus didorong Djoko dengan prinsip “on target, on budget, on schedule” yang menekankan pentingnya kesesuaian jadwal, anggaran, standar keselamatan, serta tata kelola yang baik demi mewujudkan manfaat nyata bagi ketahanan energi, ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja nasional.
#AbadiMasela #SKKMigas #DjokoSiswanto #FinalInvestmentDecision #INPEX #LNGIndonesia #LautArafura #KetahananEnergi #ProyekHuluMigas #FEEDMasela






