BASARNAS ACEH KERAHKAN DRONE THERMAL CANGGIH DAN K-9

Fokus, Regional698 Dilihat

 

Perburuan Korban Hilang Bencana Aceh: Basarnas Turunkan Teknologi Terbaru, Tantangan Berat Material Longsor!

BANDA ACEH—Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kantor Banda Aceh meningkatkan intensitas operasinya, mengerahkan berbagai teknologi mutakhir untuk mempercepat pencarian korban yang belum ditemukan (hilang) akibat banjir dan longsor di 17 kabupaten/kota di Aceh.

Dalam keterangan pers di Posko Pusat Informasi dan Media Center Penanganan Bencana di Kantor Gubernur Aceh, Senin (8/12/2025), Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, memaparkan fokus utama timnya.

“Fokus operasi kita adalah pencarian 62 korban yang masih belum ditemukan. Hari ini kita laksanakan operasi di Bireuen, khususnya Peusangan dan Peudada. Di Aceh Utara, pemantauan menggunakan drone di Tanah Jambo Aye. Sementara di Aceh Tamiang, tim melakukan penyisiran intensif di Sungai Tamiang,” jelas Ibnu Harris.

Drone Thermal Gantikan Detektor Lama

Basarnas kini tak lagi mengandalkan metode konvensional. Untuk meningkatkan efektivitas, mereka menggunakan drone thermal dalam pemantauan udara.

“Teknologi ini lebih efektif dibandingkan metode lama seperti life detector,” ujar Ibnu Harris.

Drone thermal ini bekerja dengan mendeteksi panas tubuh korban, memungkinkan tim SAR menemukan mereka yang mungkin terjebak di tumpukan material hanyutan atau tersangkut di dahan pepohonan. Selain itu, dengan mulai surutnya genangan air di banyak lokasi, Basarnas juga menyiapkan Unit K-9 (anjing pelacak) untuk operasi pencarian lanjutan di darat.

Tantangan Logistik dan Rintangan Alam

Meskipun peralatan yang disiagakan Basarnas terbilang lengkap—mulai dari rescue car, rescue carrier, perahu karet, peralatan deteksi seperti sonar dan kamera thermal, hingga Kapal SAR KN Purworejo—tantangan utama tetap datang dari alam.

“Peralatan kita mencukupi, tetapi tantangannya adalah luas wilayah pencarian dan banyaknya area yang aksesnya masih sangat terbatas,” kata Ibnu Harris.

Material banjir dan longsor berupa batang kayu besar, batu, lumpur tebal, hingga timbunan puing, menjadi hambatan terbesar yang memperlambat mobilitas tim SAR di lapangan.

Selain pencarian, Basarnas turut berperan vital dalam membantu distribusi logistik ke daerah-daerah yang terisolasi. Mereka menggunakan metode air dropping (penjatuhan dari udara) untuk memastikan warga di daerah terpencil tetap menerima bantuan.

Mitigasi Dini dan Peringatan Hujan Ekstrem

Menanggapi ancaman hujan ekstrem yang diprediksi terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026, Ibnu Harris menekankan pentingnya mitigasi dan koordinasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“BMKG mengeluarkan informasi 1X24 jam. Kami terus memublikasikan informasi tersebut kepada masyarakat. Peringatan dini harus ditindaklanjuti bersama agar kejadian seperti ini bisa diminimalkan risikonya,” tegasnya.

Basarnas juga menyoroti pentingnya kapasitas masyarakat. Mitigasi telah dilakukan jauh sebelum bencana, melalui program Sekolah Sungai dan Sekolah Relawan, pelatihan potensi SAR, dan pembentukan Satgas SAR Desa. Tujuannya sederhana: “Masyarakat adalah pihak pertama yang berada di lokasi kejadian. Karena itu, kapasitas mereka harus kuat,” pungkasnya.

#Basarnas #SARAceh #KorbanHilang #PencarianKorban #DroneThermal #TeknologiSAR #BencanaAceh #MitigasiBencana #HujanEkstrem #AcehSiaga