FESTIVAL BUDAYA MANOLA: SUMBA BANGKIT DARI ABU

Fokus, Regional499 Dilihat

 

Dengan semangat yang sama panasnya seperti bara musibah yang pernah melanda, masyarakat Sumba Barat Daya kembali berdiri. Selasa (25/11/2025), Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) meresmikan Festival Budaya Manola, sebuah gerakan kebudayaan terpadu yang lahir dari tekad bangkit pasca-kebakaran besar yang sebelumnya menghanguskan 18 rumah adat.

Digelar di Kampung Situs Manola, Wewewa Selatan, festival ini mengusung tema “Papan, Sandang, Pangan dalam Keberlanjutan Tradisi Masyarakat Manola”—sebuah pesan sederhana namun kuat: identitas Sumba harus tetap hidup, sekalipun badai pernah menghampiri.

Dibuka Bupati, Dihadiri Tokoh Penting

Festival dibuka langsung oleh Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wulla. Hadir pula tokoh budaya Pater Robert Ra Mone, Feri Arlius selaku Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, serta Camat Wewewa Selatan Stefanus Malo. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa pemulihan budaya bukan hanya urusan komunitas lokal, tetapi agenda bersama.

Papan, Sandang, Pangan: Tiga Pilar yang Dihidupkan Kembali

Festival Budaya Manola tak sekadar pesta seni. Ia dirancang sebagai ruang hidup budaya, menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seperti:

revitalisasi ritual adat,
diskusi publik,
workshop pewarna alam,
pertunjukan seni,
pameran foto,
serta pameran pangan lokal.

Ketiga pilar—rumah adat (papan), kain tenun (sandang), dan pangan lokal—diteguhkan kembali sebagai fondasi identitas masyarakat Manola.

Komitmen Konkret Pemerintah: 20 Rumah Adat Dibangun 2026

Dalam momentum ini, pemerintah daerah menegaskan rencana besar:
pembangunan 20 rumah adat baru pada 2026, sekaligus mendorong Kampung Manola ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan ruang hidup masyarakat adat Sumba, tempat menyatu antara spiritualitas, pengetahuan, dan keseharian warganya.

Bangkit Dari Abu, Menata Masa Depan

Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla menegaskan bahwa festival ini menjadi tonggak penting untuk menghidupkan kembali nilai gotong royong dan kearifan lokal.

“Rumah adat bukan hanya bangunan. Ia ruang hidup, ruang spiritual, dan ruang pengetahuan. Festival ini meneguhkan semangat untuk memastikan tradisi tetap lestari di tengah tantangan zaman,” ujarnya.

Generasi Muda Jadi Tumpuan

Menurut pemerintah, festival ini diharapkan menjadi ruang belajar bagi generasi muda—agar mereka tidak hanya mengenal tradisi lewat cerita, tetapi mengalaminya langsung, merawatnya, dan mewariskannya kembali.

Festival Budaya Manola menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan cahaya yang memandu masa depan Sumba.

#FestivalManola2025 #SumbaBaratDaya #BudayaSumba #RumahAdat #KainTenun #PanganLokal #KebangkitanSumba #PelestarianBudaya #WewewaSelatan #ManolaBangkit