PRABOWO DAN GNB BUKA-BUKAAN SOAL PRAHARA AGUSTUS

Fokus, Hukum, Nasional102 Dilihat

Langit sore Jakarta masih terasa gerah ketika rombongan tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) tiba di Istana Merdeka, Kamis (11/9). Mereka tidak datang untuk seremoni belaka. Di balik pintu ruang pertemuan, berlangsung dialog panjang yang jarang terjadi: hampir tiga jam Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan para tokoh lintas agama dan bangsa, membicarakan isu-isu sensitif dari politik, ekonomi, hingga masa depan kepolisian.

Suasana disebut penuh keakraban, namun juga terbuka tanpa tedeng aling-aling. Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang ikut mendampingi, menggambarkan pertemuan itu sebagai “penguatan dan persamaan pandangan” antara Presiden dan GNB. “Beliau menjawab semua pertanyaan dengan terbuka,” ujarnya selepas dialog.

Nama-nama besar ikut hadir. Quraish Shihab, ulama senior, menyebut forum ini memberi pencerahan. “Kami mendapat banyak penjelasan yang memuaskan dari Bapak Presiden. Apa yang kami sampaikan dipahami dengan baik,” katanya, menambahkan bahwa pertemuan itu membuatnya lebih optimistis pada arah bangsa.

Tak hanya mendengar, Prabowo juga mengulurkan janji konkret. Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama, menyinggung soal komitmen Presiden membentuk Komisi Investigasi Independen terkait Prahara Agustus—isu yang belakangan ramai dibicarakan publik. “Detailnya tentu akan disampaikan Istana mengenai formatnya,” kata Lukman.

Topik yang lebih sensitif muncul dari Gomar Gultom, tokoh agama yang menyoroti kepolisian. Menurutnya, Presiden menerima baik gagasan reformasi institusi Polri, bahkan membuka ruang pembentukan tim khusus atau komisi reformasi. Sebuah langkah yang, jika benar diwujudkan, bisa menjadi gebrakan besar di awal masa kepresidenan Prabowo.

Pertemuan ini pada akhirnya lebih dari sekadar dialog. Ia menjadi penegas gaya kepemimpinan Prabowo yang memilih membuka pintu lebar-lebar untuk kritik sekaligus menjawabnya dengan janji konkret. Dalam demokrasi yang kerap riuh dengan suara sumbang, pertemuan di Istana ini tampak seperti oase—setidaknya bagi para tokoh GNB yang keluar dengan wajah sumringah.