BI TURUNKAN SUKU BUNGA, INDONESIA BERSIAP TANCAP GAS

Ekonomi, Fokus, Nasional190 Dilihat

Setelah lebih dari setahun menahan diri, Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2025. Dengan penyesuaian ini, BI Rate kini berada di level 4,75 persen—tanda dimulainya siklus pelonggaran moneter baru di tengah stabilitas makro dan peluang global yang semakin terbuka.

Langkah ini mengonfirmasi prediksi sejumlah analis, termasuk Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, yang sejak awal 2025 telah menyerukan perlunya respons cepat terhadap momentum ekonomi. “Pemotongan bunga ini adalah awal dari siklus baru, bukan langkah tunggal. Dengan inflasi rendah dan tekanan eksternal yang makin longgar, ruang pelonggaran masih terbuka lebar, bahkan bisa turun ke 4,5 persen tahun ini,” kata Fakhrul dalam keterangannya kepada InfoPublik, Rabu (16/7/2025).

Keputusan BI kali ini tidak berdiri sendiri. Ia datang hanya sehari setelah diumumkannya kesepakatan dagang strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang memberi tarif istimewa 19 persen untuk ekspor RI—jauh lebih rendah dibanding negara pesaing di kawasan. Menurut Fakhrul, momen ini bukan semata perjanjian dagang, tapi sinyal perubahan arah geopolitik dan keuangan global yang menjadikan Indonesia sebagai alternatif penempatan aset baru.

“Dengan memudarnya minat negara-negara surplus membeli US Treasury akibat fragmentasi geopolitik, akan ada rotasi cadangan devisa global. Emerging market seperti Indonesia kini jauh lebih menarik,” jelasnya.

Faktor-faktor penunjang keputusan BI juga solid: inflasi per Juni hanya 1,87 persen—terendah dalam lima tahun, rupiah stabil menguat, dan cadangan devisa mencetak rekor baru di USD153 miliar. Fakhrul menyebut kombinasi ini sebagai window of opportunity yang jarang terjadi dalam satu siklus ekonomi.

“Kalau kita tidak ekspansi sekarang, kita akan kehilangan momentum. Peluang seperti ini tidak datang dua kali,” ujarnya.

Ia juga mendorong sektor riil untuk bergerak cepat. Dengan cost of fund yang mulai turun dan arah kebijakan yang lebih akomodatif, sektor manufaktur, teknologi, infrastruktur, hingga properti diperkirakan akan mencatat percepatan pemulihan di paruh kedua 2025.

Dampak langsung dari pelonggaran moneter ini antara lain:

* Turunnya biaya pinjaman bagi korporasi dan pelaku UMKM,
* Stimulus bagi ekspor lewat penguatan daya saing harga,
* Dorongan terhadap sektor properti dan konstruksi,
* Katalis penguatan IHSG yang diperkirakan menembus 7.750 tahun ini.

“Ini bukan euforia. Ini strategi makro yang didukung data dan realitas global baru. Rupiah menguat, inflasi terkendali, dan investor melihat Indonesia sebagai jangkar stabil di tengah turbulensi,” tegas Fakhrul.

Langkah BI menurunkan suku bunga adalah tanda bahwa risiko sistemik telah mereda, dan Indonesia siap memanfaatkan angin sejuk global untuk melaju lebih cepat. Kini bola ada di tangan pelaku usaha dan regulator fiskal: apakah mereka siap memacu pertumbuhan dan mengeksekusi kebijakan dengan disiplin dan kecepatan tinggi?