DPR KECAM SERANGAN AS KE IRAN: RUSAK DIPLOMASI INTERNASIONAL

Fokus, Internasional564 Dilihat

JAKARTA – Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam keras tindakan militer sepihak yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Serangan tersebut terjadi melalui operasi gabungan udara dan laut di tengah berlangsungnya perundingan antara Iran dan Uni Eropa di Swiss.

“Tindakan sepihak Amerika Serikat tidak hanya memperburuk konflik, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap mekanisme diplomasi internasional,” ungkap Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, dikutip dari keterangan resminya di Jakarta, Senin (23/6/2025).

Serangan militer AS ke Iran dilancarkan pada Minggu dini hari, 22 Juni 2025, pukul 03.00 waktu setempat, bertepatan dengan waktu serangan militer Israel ke wilayah Iran. Mardani menjelaskan, kesamaan waktu ini memperkuat kekhawatiran akan terjadinya konflik berskala regional dan potensi pecahnya perang terbuka di Timur Tengah.

Sebelumnya, AS mengungkapkan bahwa militernya menggunakan enam bom penghancur bunker GBU-57 secara khusus untuk menargetkan fasilitas nuklir bawah tanah Fordow milik Iran. Selain itu, dalam operasi tersebut, AS menyerang Iran dengan kapal selam militer, menjatuhkan setidaknya 30 rudal Tomahawk ke berbagai target di Iran.

“Lebih dari sekadar serangan fisik, insiden ini merupakan tamparan terhadap prinsip-prinsip multilateralisme dan penyelesaian damai melalui diplomasi,” ujar politisi Fraksi PKS ini. Ia menambahkan, serangan yang dilancarkan bersamaan dengan pertemuan diplomatik antara delegasi Iran dan Uni Eropa di Swiss menandakan penolakan terang-terangan terhadap ruang dialog.

Mardani menegaskan, insiden ini menjadi pengingat penting bahwa parlemen di seluruh dunia memiliki peran strategis dalam mencegah konflik dan menjaga perdamaian.

“Kekuatan militer tidak boleh menjadi alat utama dalam menyelesaikan sengketa internasional. Justru parlemen dan diplomasi parlementer harus menjadi garda terdepan dalam membangun kepercayaan antarnegara dan mendorong penyelesaian damai yang berkelanjutan,” pungkas doktor lulusan salah satu universitas di Malaysia ini.