REMAJA BADUI KORBAN BEGAL, DISAMBUT HARU DI KAMPUNG HALAMAN

Fokus, Hukum406 Dilihat

 

Repan (16) berjalan pulang dengan langkah yang belum pulih benar—tiga hari perjalanan kaki dari Jakarta menuju pedalaman Kanekes, Lebak, Banten. Di antara pepohonan dan rumah-rumah panggung Badui, warga menunggu dengan cemas. Begitu sosoknya muncul, sorak pelan dan isak tertahan menyambutnya. Seorang anak Badui Dalam yang jadi korban kejahatan di ibu kota akhirnya kembali ke pangkuan adatnya.

“Kami bersyukur korban sudah sehat dan bisa pulang,” kata Sekretaris Desa Kanekes, Medi, Minggu siang. Ucapannya seperti mewakili lega seluruh komunitas.

Repan bukan sekadar pulang. Ia pulang membawa luka—fisik dan batin. Remaja penjual madu keliling itu menjadi target pembegalan di kawasan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Uang hasil jerih payahnya, sekitar Rp3 juta, raib. Sepuluh botol madu miliknya pun disambar. Lebih dari itu, celurit pelaku menyayat kulit tangan kirinya.

Beruntung, seorang kenalan di Jakarta segera menolong, membawanya ke rumah sakit, dan memastikan hidupnya tak terputus di jalanan kota.

Minggu sore itu, tokoh adat Badui berdiri di barisan depan. Jaro Tangtu Jaro Adat (Jaro Alis), Jaro Oom (Jaro Pemerintahan), keluarga, serta warga Badui Dalam dan Badui Luar—semuanya berkumpul memberi ruang pulang bagi seorang anak yang hampir direnggut kejahatan.

Jaro Oom menuturkan rasa syukur: “Kami lega ia kembali dengan keadaan sehat.” Namun suaranya berubah tegas ketika menyampaikan tuntutan. “Pelaku harus menyerahkan diri. Selama belum tertangkap, masalah ini tidak akan beres.”

Supremasi hukum menjadi suara bulat para tetua adat. Mereka berdoa agar pelaku segera ditemukan aparat. Bagi mereka, keadilan bukan hanya soal hukum negara, tetapi juga keseimbangan batin komunitas.

Dari Jakarta, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro memastikan penyelidikan berjalan. Saksi diperiksa, lokasi ditelusuri, petunjuk dikumpulkan. “Pelaku masih dalam pengejaran. Polisi bekerja keras untuk menyelidiki kasus tersebut,” ujarnya.

Di Kanekes, Repan duduk bersandar di depan rumah, dikelilingi keluarga dan warga yang tak henti bertanya kabar. Rasa aman itu akhirnya kembali—meski bayang-bayang malam Jakarta masih menempel di ingatannya.

Namun bagi masyarakat Badui, hari itu adalah hari pulang: hari ketika seorang anak kembali ke pelukan adat setelah hampir hilang di kota yang terlalu besar untuk menampung keramahan.

#BaduiDalam #Lebak #PembegalanJakarta #Repan #BeritaTerkini #FeatureNews #Kanekes #Hukum #JakartaPusat

SUMBER: ANTARA