Malam di Kagoshima seharusnya sunyi. Tapi pada pukul 00.57, langit di barat daya Jepang terbelah oleh kilatan merah yang menyala dari Minamidake—kawah paling gelisah di Gunung Sakurajima. Dalam hitungan detik, kolom abu dan asap menjulang setinggi lebih dari 4.400 meter, mengubah gelap menjadi bingkai kelabu raksasa yang menggantung di atmosfer.
Warga sekitar terjaga bukan oleh suara, melainkan oleh getar yang terasa seperti bisikan dari perut bumi. Sakurajima, gunung api yang tak pernah benar-benar tidur, kembali menunjukkan sifat liarnya.
Erupsi itu tak berhenti pada letusan pertama. Observatorium meteorologi Jepang mencatat rangkaian aktivitas beruntun, cukup kuat hingga memaksa badan meteorologi mengeluarkan prakiraan sebaran abu untuk Kagoshima, Kumamoto, dan Miyazaki. Untungnya, tidak ada laporan korban jiwa ataupun kerusakan bangunan.
Letusan yang terjadi dini hari itu adalah kolom abu tertinggi sejak Oktober tahun lalu. “Batuan vulkanik berukuran besar terlontar hingga pos kelima,” lapor observatorium setempat. Meski demikian, tidak terdeteksi aliran piroklastik—kabar yang sedikit melegakan di tengah malam yang penuh ketegangan.
Tingkat siaga masih berada pada level tiga dari skala lima. Artinya, akses menuju area gunung dibatasi ketat, namun belum memerlukan evakuasi massal.
Sakurajima memang bukan gunung api sembarangan. Ia adalah salah satu yang paling aktif di Jepang—sebuah raksasa yang kadang jinak, kadang murka. Dulu ia berdiri sebagai pulau terpisah, sebelum aliran lava pada tahun 1914 menghubungkannya dengan Semenanjung Osumi di Pulau Kyushu. Sejak itu, Sakurajima seperti menjadi bagian dari daratan yang terus berdenyut dengan energi geologis.
Minggu dini hari ini menjadi pengingat baru: di Jepang, alam tetap memegang kendali. Dan Sakurajima, dengan segala sejarah panjang letusannya, masih menulis bab-bab baru yang membuat warga waspada sekaligus takjub pada kekuatan bumi.
#Sakurajima #GunungApiJepang #Kagoshima #ErupsiGunung #BreakingNews #FeatureNews #Jepang #Kyushu
SUMBER: ANTARA






