Segelas es teh manis, boba, hingga kopi susu gula aren sudah jadi teman setia banyak orang. Rasanya segar, manisnya bikin nagih. Tapi di balik kenikmatan itu, ada bahaya yang sering diabaikan: obesitas, diabetes tipe-2, hingga penyakit jantung.
Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika kita berhenti mengonsumsi minuman manis?
Dokter spesialis gizi klinik dari RS Melinda Bandung, Johanes Casay Chandrawinata, mengatakan tubuh langsung menunjukkan respons positif. “Saat asupan gula berkurang, tubuh terasa lebih segar dan sehat,” ujarnya, Rabu (27/8).
Namun, perubahan itu tak serta-merta nyaman. Di hari-hari pertama, banyak orang merasa lemas, kurang bertenaga, bahkan sedikit ‘sakau’ karena tubuh terbiasa dengan lonjakan energi instan dari gula. Gula memang sumber energi cepat, tapi bukan berarti tanpa gula tubuh akan kolaps. “Kadar gula darah tetap dijaga tubuh dalam batas normal,” kata Johanes menegaskan.
Biasanya butuh waktu 7–10 hari untuk beradaptasi. Setelah itu, energi justru lebih stabil. Tubuh terasa lebih ringan, konsentrasi meningkat, dan rasa kantuk setelah makan berkurang.
Manfaat lain? Trigliserida—lemak dalam darah yang bisa memicu stroke dan serangan jantung—turun drastis. Risiko sindrom metabolik pun ikut mereda.
Jadi, berhenti minuman manis bukan hanya soal menghindari kalori kosong. Ini investasi kesehatan jangka panjang. Sesekali menikmati manis boleh saja, tapi tubuh akan jauh lebih berterima kasih jika kamu mulai membatasi gula dari hari ini.






