Gangguan kesehatan jiwa resmi masuk radar besar BPJS Kesehatan. Lembaga ini meluncurkan fitur skrining mental online yang bisa diakses siapa saja—peserta JKN maupun non-peserta. Langkah ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan lagi isu pinggiran, melainkan bagian penting dari sistem Jaminan Kesehatan Nasional.
Dalam Media Workshop BPJS Kesehatan 2025: “Kesehatan Jiwa adalah Hak Semua” pada Jumat (19/9), Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengungkap fakta mengejutkan: dari 7.446 orang yang mengikuti skrining, 2.632 orang atau sekitar 35 persen terindikasi mengalami gangguan mental. “Ini bukan angka kecil,” tegasnya.
Skrining Mental Daring
Alat deteksi dini ini berbasis Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), metode yang direkomendasikan WHO. Pertanyaannya sederhana—20 item dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Hasilnya pun mudah dibaca: lebih dari 7 jawaban “ya” berarti berisiko gangguan mental, sedangkan kurang dari 7 dianggap aman.
Bagi yang terindikasi berisiko, sistem akan langsung mengarahkan mereka ke pemeriksaan lanjutan di FKTP atau rumah sakit sesuai NIK dan domisili.
Klaim Kesehatan Jiwa Membengkak
Data BPJS Kesehatan mengonfirmasi tren yang tak bisa diabaikan. Selama lima tahun terakhir, klaim untuk layanan kesehatan jiwa melonjak signifikan. Skizofrenia menyumbang angka terbesar dengan nilai lebih dari Rp3,5 triliun. Disusul depresi dan gangguan kecemasan (ansietas) yang juga tinggi.
“Gangguan jiwa sifatnya kronis dan panjang. Tapi di Indonesia, semua dijamin BPJS. Bahkan mereka yang sudah stabil bisa dirujuk balik ke FKTP untuk kontrol rutin,” jelas Ghufron.
Digitalisasi Layanan Kesehatan Jiwa
Selain skrining daring, BPJS Kesehatan memperkuat layanan digital lewat aplikasi Mobile JKN dan fitur Icare. Peserta kini bisa mengecek antrean, riwayat medis, hingga akses skrining mental tanpa harus menunggu pemeriksaan rutin.
Ghufron menekankan bahwa transformasi ini menandai pergeseran besar dalam strategi pelayanan publik: dari kuratif ke preventif. “Visi kami menghadirkan layanan yang cepat, mudah, setara, dengan fokus promotif dan preventif,” ujarnya.
Dengan hasil skrining yang mengungkap sepertiga responden berisiko, isu kesehatan mental kini bukan sekadar wacana. Ia sudah mengetuk pintu rumah tangga Indonesia.






