TARI MATI MENDADAK, TESSO NILO BERDUKA

Fokus, Nasional338 Dilihat

Riau berduka. Seekor anak gajah betina bernama Tari Kalista Lestari, ikon konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), ditemukan mati mendadak pada Rabu pagi (10/9/2025). Tari yang lahir pada 31 Agustus 2023 dari induk gajah Lisa di Camp Elephants Flying Squad, Lubuk Kembang Bunga, selama dua tahun terakhir menjadi simbol harapan bagi masa depan gajah Sumatera yang kian terancam.

Kehadirannya bukan hanya menyedot perhatian publik karena kelucuannya, melainkan juga memberi energi baru bagi gerakan pelestarian satwa liar. Tari adalah bukti rapuhnya keseimbangan ekosistem, sekaligus pengingat bahwa konservasi membutuhkan lebih dari sekadar niat baik.

SIMBOL HARAPAN YANG TERHENTI

Kapolda Riau, Herry Heryawan—yang dikenal sebagai orang tua angkat Tari—tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Baginya, Tari bukan sekadar gajah kecil yang tumbuh di bawah pengawasan mahout, melainkan simbol rapuhnya hubungan manusia dengan alam.

“Hari ini, dengan hati yang berat namun penuh keikhlasan, saya sampaikan bahwa putri angkat kami, Gajah Tari Kalista Lestari, telah kembali ke pangkuan alam semesta. Tari bukan sekadar gajah, ia adalah simbol keseimbangan alam yang semakin rapuh,” ujar Herry.

Ia menambahkan, kepergian Tari harus menjadi momentum memperkuat kesadaran menjaga hutan dan satwa liar. “Jiwa Tari kini menyatu dengan semesta, menjadi energi yang menginspirasi kita untuk menjaga kelestarian hutan,” katanya.

Herry berjanji akan terus menjaga Domang, gajah saudara tiri Tari yang masih hidup di TNTN, sekaligus menguatkan komitmen Green Policing—program kepolisian yang menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari tugas keamanan.

KEMATIAN MENDADAK

Kepala Balai TNTN, Heru Sumantoro, membenarkan kabar duka ini. Menurutnya, Tari ditemukan tak bernyawa saat mahout melakukan pengecekan rutin.

“Pagi tadi saat mahout mengecek ke lapangan, Tari sudah mati. Padahal semalam masih terlihat baik-baik saja,” ungkap Heru.

Saat ini, tim dokter hewan sedang melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian. Sampel organ tubuh Tari telah dikirim ke laboratorium di Bogor. Dugaan masih terbuka: apakah infeksi virus, penyakit tersembunyi, atau faktor lain. “Gajah memang kadang terlihat sehat tetapi bisa tiba-tiba mati. Karena itu penyebab pastinya masih kami dalami,” tambah Heru.

LEBIH DARI SEKADAR SATWA

Kepergian Tari menorehkan luka dalam di dunia konservasi Indonesia. Ia lahir di tengah ancaman nyata: hutan Tesso Nilo terus tergerus perkebunan sawit ilegal, konflik manusia-gajah masih kerap terjadi, dan populasi gajah Sumatera makin menyusut.

Selama hidupnya yang singkat, Tari telah menjadi wajah kampanye pelestarian TNTN. Ia kerap tampil dalam kegiatan pendidikan konservasi, mempertemukan anak-anak sekolah dengan satwa liar yang seharusnya dilindungi. Tari mengingatkan banyak orang bahwa hutan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga rumah bagi makhluk yang punya hak hidup setara.

Kini, Tari tiada. Namun kisahnya bisa menjadi pengingat bahwa perlindungan satwa liar tak boleh setengah hati. Konservasi bukan sekadar menjaga satu individu, melainkan ekosistem utuh.