KEMENLU: WNI DI NEPAL SELAMAT

Dunia menoleh ke Nepal. Ibukota Kathmandu dan sejumlah kota lain bergolak sejak awal pekan, ketika ribuan warga turun ke jalan memprotes keputusan pemerintah yang memblokir platform media sosial populer. Aksi itu, yang awalnya hanya demonstrasi anak-anak muda Generasi Z, berbelok cepat menjadi kerusuhan massal. Gedung-gedung publik dibakar, kantor partai politik diserbu, hingga gedung parlemen dan kediaman pejabat tinggi dilalap api.

Sedikitnya 19 orang tewas ditembak aparat, ratusan lainnya luka-luka, dan asap hitam pekat masih mengepul dari sisa bangunan yang gosong. Nepal sedang membara.

Di tengah situasi genting itu, Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh warga negara Indonesia dalam keadaan selamat. Direktur Perlindungan WNI, Judha Nugraha, pada Rabu (10/9/2025) menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Dhaka yang membawahi Nepal, Konsul Kehormatan RI di Kathmandu, serta simpul-simpul masyarakat Indonesia setempat. “Hingga saat ini tidak terdapat informasi adanya WNI yang menjadi korban kerusuhan tersebut,” kata Judha lewat keterangan resmi.

Jumlahnya tidak sedikit. Catatan KBRI menyebut ada 57 WNI yang menetap di Nepal. Di luar itu, terdapat 43 anggota delegasi RI yang sedang menghadiri konferensi internasional di Kathmandu, dua anggota TNI yang mengikuti pelatihan, dan 23 wisatawan asal Indonesia. “Mereka semua dipastikan dalam keadaan aman,” ujar Judha.

KBRI, yang ikut memantau langsung perkembangan lapangan, sudah mengeluarkan imbauan agar warga Indonesia tidak mendekat ke kerumunan, membatasi aktivitas di luar rumah, serta terus memantau informasi dari otoritas setempat. Situasi yang cepat berubah membuat peringatan dini ini menjadi langkah penting.

Kerusuhan besar ini berawal dari satu keputusan kontroversial pemerintah Nepal: memblokir platform media sosial populer karena dianggap tidak mendaftar sesuai regulasi baru. Kebijakan itu dipandang generasi muda sebagai bentuk pembungkaman, terlebih di tengah keresahan panjang atas korupsi dan lemahnya pelayanan publik. Dari jalan-jalan sempit Kathmandu hingga lapangan besar di pinggiran kota, ribuan orang berteriak menuntut perubahan.

Namun, protes itu segera berubah arah. Bentrokan dengan aparat, penjarahan toko-toko, dan pembakaran kantor publik meluas dalam hitungan jam. Bendera partai-partai pemerintah dilalap api, gedung parlemen dijebol massa, bahkan kantor Presiden ikut jadi sasaran amuk.

Nepal, yang belakangan dianggap sebagai salah satu negara dengan transisi demokrasi rapuh di Asia Selatan, kini menghadapi ujian berat. Dunia internasional menyorot tajam, sementara warga setempat masih mencoba mencari jawaban di tengah reruntuhan.

Bagi Indonesia, kabar utama hari ini jelas satu: tidak ada warga negara yang terluka atau menjadi korban. Namun, di balik rasa lega itu, ada bayang-bayang pertanyaan yang sama sekali belum reda: sampai kapan Kathmandu akan bertahan dalam kobaran api protes rakyatnya sendiri?