Baru tiga hari menjabat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung bikin gebrakan. Tanpa basa-basi, ia memutuskan memindahkan dana pemerintah senilai Rp200 triliun dari rekening Bank Indonesia ke bank-bank nasional. Langkah ini bukan sekadar manuver teknis, melainkan sinyal kuat: pemerintah ingin menghidupkan mesin ekonomi yang belakangan mendengung pelan.
“Kalau belanja pemerintah lambat dan moneter terlalu ketat, dampaknya bisa lebih buruk,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (10/9). Pernyataan sederhana, tapi tegas.
Keputusan ini juga bukan tanpa restu. Presiden sudah diberi laporan, Bank Indonesia sudah diajak bicara. Pesan Purbaya jelas: dana ini jangan kembali diserap lewat instrumen jangka pendek seperti SRBI, melainkan dialirkan ke sektor riil—bukan untuk beli SUN atau sekadar parkir di portofolio aman.
MENGGERAKKAN DUA MESIN SEKALIGUS
Strategi Purbaya sesungguhnya sederhana: jangan biarkan ekonomi hanya bertumpu pada APBN. Ia ingin dua mesin berjalan beriringan—pembiayaan pemerintah dan investasi swasta. Untuk itu, Badan Pengelola Investasi Danantara akan dipacu menjadi poros baru investasi. Harapannya, hingga 2029 kontribusinya makin besar, seiring meningkatnya peran swasta.
“Investasi Danantara diarahkan untuk sektor produktif, yang bisa menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja,” kata Purbaya. APBN tetap jadi katalis, lewat pembangunan infrastruktur prioritas: pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga perumahan rakyat.
Targetnya ambisius. Pertumbuhan PDB dalam RAPBN 2026 ditetapkan 5,4 persen, lebih tinggi dari target tahun ini di 5,2 persen.
SINYAL BAGI PERBANKAN
Kebijakan injeksi Rp200 triliun ini, menurut ekonom Universitas Atma Jaya, Aloysius Gunadi Brata, akan membuka ruang lebih besar bagi perbankan. Kredit yang sempat melambat hingga 7,03 persen pada Juli 2025 bisa kembali bergerak. “Kalau daya beli masyarakat pulih, dana segar ini akan jadi motor pertumbuhan,” ujarnya.
Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menambahkan, APBN tak bisa kerja sendirian. Sinergi dengan sektor swasta adalah kunci. “Kebijakan dari kedua sisi bisa saling melengkapi,” kata dia.
Sementara itu, Direktur Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengingatkan agar Menkeu tak hanya fokus pada pemain besar. UMKM, katanya, justru lebih cepat menciptakan lapangan kerja. “Terobosan harus diarahkan ke sana,” ucap Awan.
PERTARUHAN AWAL
Gebrakan Rp200 triliun ini adalah taruhan politik sekaligus ekonomi. Jika likuiditas benar-benar mengalir ke sektor riil, dampaknya bisa menggerakkan konsumsi, memperkuat kelas menengah, dan memberi efek berganda bagi perekonomian.
Namun risiko tetap ada. Tanpa daya beli yang pulih, dana itu bisa saja mandek, hanya jadi angka di laporan bank. Itulah tantangan pertama Purbaya: memastikan mesin ekonomi tidak sekadar dinyalakan, tapi benar-benar melaju kencang.






