ROJALI DAN ROHANA BUKAN LAWAKAN, MENSETNEG MINTA PEMERINTAH PEKA

Ekonomi, Fokus, Nasional82 Dilihat

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi serius maraknya fenomena “Rojali” (Rombongan Jarang Beli) dan “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya) yang belakangan viral di media sosial. Menurutnya, kedua istilah tersebut bukan bahan candaan, melainkan cerminan nyata kondisi perekonomian masyarakat yang masih perlu dibenahi secara mendalam.

“Terus terang saya tidak terlalu gembira dengan istilah itu. Bukan sekadar lelucon, itu adalah lecutan bagi kita semua bahwa masih banyak yang harus diperjuangkan dan dibenahi,” kata Prasetyo saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Fenomena “Rojali” dan “Rohana” dinilai muncul sebagai respons masyarakat atas ketidakpastian ekonomi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Istilah tersebut merujuk pada perilaku konsumen yang ramai mendatangi pusat perbelanjaan, namun tidak melakukan pembelian atau hanya sekadar bertanya-tanya harga produk.

Prasetyo mengakui bahwa meskipun ekonomi nasional tumbuh 5,12 persen pada kuartal II 2025, angka itu tidak merefleksikan sepenuhnya kondisi masyarakat di lapisan bawah, khususnya mereka yang masuk dalam desil 1 dan 2 atau kelompok miskin dan miskin ekstrem.

“Masih ada saudara-saudara kita yang harus berjuang keras untuk sekadar bisa membeli kebutuhan. Ini bukan sekadar masalah statistik, tapi kenyataan sosial yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah harus menjadikan fenomena ini sebagai pengingat untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, memperkuat daya beli, dan mengatasi kebocoran-kebocoran dalam sistem perekonomian sebagaimana sering disampaikan Presiden.

Prasetyo juga menyatakan perlunya mempercepat reformasi struktural, menarik lebih banyak investasi, dan memastikan kebijakan ekonomi berdampak langsung ke masyarakat bawah.

“Fenomena Rojali dan Rohana harus jadi refleksi, bahwa tugas kita belum selesai. Kita harus memastikan pertumbuhan ekonomi itu terasa hingga ke kantong masyarakat,” tegasnya.

Istilah “Rojali” dan “Rohana” viral sebagai bentuk ekspresi publik terhadap menurunnya konsumsi domestik. Rojali menggambarkan kelompok masyarakat yang hanya berjalan-jalan di mal tanpa melakukan pembelian, sementara Rohana merujuk pada pengunjung yang hanya bertanya soal produk, tapi tidak jadi membeli.

Fenomena ini menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap ketimpangan konsumsi dan lemahnya daya beli sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi nasional.