HERU TJAHJONO AJAK AHLI GIZI GALI POTENSI PANGAN LOKAL

Fokus, Nasional349 Dilihat

Anggota Komisi IX DPR RI Heru Tjahjono mengajak para ahli gizi di Indonesia untuk menggali lebih dalam potensi pangan lokal sebagai sumber gizi unggulan. Ia menekankan pentingnya kembali mengangkat bahan makanan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat, namun belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pengembangan ilmu gizi modern.

Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IX ke Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/7/2025), Heru menyatakan bahwa bahan pangan berbasis kearifan lokal kerap terabaikan karena dominasi produk impor atau yang dianggap lebih “bergengsi”. Padahal, menurutnya, kandungan gizi dari bahan lokal tidak kalah unggul.

“Gizi-gizi yang berasal dari kearifan lokal harus dimunculkan kembali. Jangan sampai kita justru bergantung pada bahan makanan dari luar,” ujarnya.

Ia mencontohkan ikan bandeng yang banyak ditemukan di daerah pesisir Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Bandeng, menurut Heru, memiliki kandungan gizi tinggi yang dapat bersaing dengan ikan-ikan dari luar negeri, seperti salmon. Namun, ia menyayangkan kecenderungan masyarakat yang lebih percaya pada superioritas pangan impor.

“Orang bilang salmon gizinya bagus, padahal itu dari Eropa, sudah mati berkali-kali sebelum sampai ke sini. Kita punya bandeng, dan banyak lagi makanan lokal yang seharusnya jadi andalan,” tegas politisi Partai Golkar tersebut.

Heru menilai bahwa pendekatan gizi berbasis kearifan lokal harus menjadi arus utama dalam pengembangan keilmuan dan kebijakan kesehatan masyarakat. Ia mendorong para ahli gizi untuk tidak terpaku pada pola pikir barat, melainkan mulai meneliti, mengembangkan, dan mengampanyekan bahan makanan lokal yang kaya manfaat.

“Kalau cinta Indonesia, kita harus gerakkan potensi lokal ini. Ahli gizi punya peran besar untuk itu,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Heru juga memberikan apresiasi kepada Poltekkes Kemenkes Semarang atas kualitas fasilitas pendidikan dan kebersihan lingkungan kampus yang dinilai sangat baik. Poltekkes tersebut, yang memiliki jurusan gizi, diharapkan mampu menjadi percontohan bagi institusi pendidikan kesehatan lainnya di seluruh Indonesia, termasuk rumah sakit daerah.

Ia menyebut keberadaan fasilitas yang lengkap dan terawat harus dibarengi dengan pemanfaatan ilmu untuk menjawab tantangan gizi masyarakat, terutama dengan menjadikan pangan lokal sebagai fondasi utama. Dengan begitu, menurutnya, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan gizi, tetapi juga membangun kemandirian dalam sektor kesehatan dan pangan.