Lonjakan kasus COVID-19 picu antisipasi ketat di pintu masuk udara utama Indonesia.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan COVID-19 dengan memperketat protokol kesehatan bagi penumpang dari luar negeri. Langkah ini diambil menyusul temuan tujuh kasus baru COVID-19 yang terdeteksi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Mei 2025.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soetta, Naning Nugrahini, menyatakan bahwa upaya pengetatan dilakukan guna mencegah masuknya kasus baru melalui jalur udara.
“Kami meminta maskapai mengimbau penumpang dari negara asal untuk mengisi SSHP (Satu Sehat Healthy Pass) sebelum keberangkatan. Ini penting agar kami bisa mendeteksi gejala awal serta menilai risiko kesehatan dalam penerbangan tersebut,” jelas Naning, Rabu (4/6/2025).
BBKK Soetta juga mengaktifkan pos pemeriksaan kesehatan secara lebih intensif. Penumpang yang menunjukkan tanda-tanda penyakit menular akan langsung menjalani tes antigen di lokasi.
“Jika ditemukan gejala, kami lakukan swab antigen. Bila hasilnya positif, penumpang akan disarankan isolasi mandiri. Kami juga mengirim notifikasi ke dinas kesehatan di daerah tujuan penumpang,” tambahnya.
Sampel dari hasil swab selanjutnya dikirim ke laboratorium guna mengidentifikasi varian virus yang menjangkiti. Naning menegaskan, jika ditemukan kasus positif di dalam pesawat, tim BBKK akan menelusuri kontak erat dan melakukan penyelidikan epidemiologi, serta melakukan disinfeksi pesawat.
“Penumpang yang duduk berdekatan dengan kasus positif akan ditelusuri dan dipantau lebih lanjut,” ujarnya.
Berdasarkan data Kemenkes, tujuh kasus COVID-19 terdeteksi selama periode 25–31 Mei 2025. Angka ini didapat dari pemeriksaan spesimen yang dilakukan secara berkala. Positivity rate COVID-19 untuk periode tersebut tercatat 2,05 persen—artinya dua dari setiap 100 orang yang diperiksa dinyatakan positif.
“Positivity rate tertinggi terjadi pada pekan epidemiologi ke-19, yakni sebesar 3,62 persen,” ujar Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, dalam laporan tertulis, Selasa (3/6/2025).
Kasus terbanyak ditemukan di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Timur. Sejak awal tahun hingga akhir Mei 2025, Kemenkes telah memeriksa 2.160 spesimen, dengan 72 orang dinyatakan positif COVID-19.
Peningkatan ini mendorong otoritas kesehatan memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk internasional guna mencegah penyebaran virus lebih luas.












