WASPADA ANCAMAN SANKSI! PSM MAKASSAR TERJERAT KARTU KUNING DAN BAYANGAN LARANGAN PENONTON

Fokus, Olahraga459 Dilihat

 

Sore di Makassar akhir-akhir ini terasa lebih berat, seakan memikul beban yang ikut menumpuk di tubuh Pasukan Ramang. Di tengah perjalanan panjang BRI Super League 2025/26, ada statistik yang membuat dahi berkerut: PSM Makassar telah mengoleksi 28 kartu kuning hanya dalam 12 pertandingan. Angka yang mencolok. Angka yang memukul.

Dalam beberapa laga, kartu kuning bahkan turun seperti hujan—lima lembar dalam satu pertandingan. Dan setiap kartu itu membawa konsekuensinya sendiri. Komite Disiplin PSSI, dengan wajah dinginnya, sudah mengetuk palu: total denda Rp200 juta hanya dari pelanggaran pemain. Jumlah yang bukan sekadar menguras kas klub, tetapi juga menjadi alarm keras bagi ruang ganti PSM.

Manajer Tim, Muhammad Nur Fajrin, akhirnya buka suara. Nada bicaranya tegas, namun penuh keprihatinan. Ia tahu para pemain selalu bermain dengan determinasi tinggi, tetapi ia juga memahami bahwa agresivitas yang tak terkontrol bisa berubah menjadi bumerang yang menyakiti klub.

“Kami selalu mengingatkan untuk meminimalisir kartu. Berjuang di lapangan, iya. Tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri dan PSM,” ujarnya, menggambarkan kegelisahan yang tak pernah benar-benar padam.

Dari 17 pemain yang sudah mengantongi kartu, nama-nama seperti Victor Luiz dan Ricky Pratama menonjol—masing-masing sudah tiga kali dihadiahi kartu kuning. Itu baru dari lapangan. Di luar lapangan, PSM juga baru saja menerima sanksi tambahan karena ulah suporter. Totalnya, denda yang harus dibayar klub telah membengkak lebih jauh: Rp200 juta dari kartu kuning dan Rp120 juta dari kejadian non-teknis.

Fajrin tak ingin perkara ini dianggap angin lalu. Ia tahu betul bahwa hukuman uang hanyalah permulaan. Jika situasi memburuk, jika stadion kembali bergemuruh untuk alasan yang salah, sanksi bisa berubah ke bentuk yang jauh lebih menusuk.

“Jangan sampai nanti bukan lagi rupiah yang hilang, tapi penonton yang dilarang masuk. Itu lebih berat. Itu menyakitkan,” tutupnya pelan, namun jelas sebagai peringatan.

Di tengah ambisi mengejar prestasi, PSM kini berada di persimpangan penting. Mereka dituntut tetap garang di lapangan, tapi juga cerdas menjaga emosi. Karena kadang, kemenangan bukan hanya soal mencetak gol—tetapi juga soal menghindari hukuman yang bisa meredam suara ribuan suporter setia.

#PSMMakassar #BRISuperLeague #PasukanRamang #KartuKuning #PSSIKomdis #SepakBolaIndonesia #LigaIndonesia #BeritaOlahraga #SuporterPSM #StadionBJHabibie