MARSINAH KEMBALI DISOROT : SIMBOL PERJUANGAN BURUH DALAM PERINGATAN MAY DAY 2026

Fokus, Hukum77 Dilihat

Jakarta — Nama Marsinah kembali menggema dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas). Sosok aktivis buruh yang wafat pada awal 1990-an tersebut вновь menjadi simbol perjuangan pekerja di tengah tuntutan kesejahteraan dan keadilan yang terus disuarakan hingga kini.

Dalam rangkaian acara, sejumlah perwakilan buruh mengangkat kembali kisah perjuangan Marsinah sebagai refleksi atas kondisi ketenagakerjaan saat ini. Spanduk, poster, hingga orasi yang menyebut namanya tampak mewarnai jalannya aksi, menunjukkan bahwa semangat perjuangan yang diwariskannya masih hidup di kalangan pekerja.

Marsinah dikenal sebagai buruh pabrik yang vokal memperjuangkan hak-hak pekerja, khususnya terkait upah dan kondisi kerja yang layak. Namanya mencuat secara nasional setelah peristiwa tragis yang merenggut nyawanya, yang hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan dan menjadi bagian penting dalam sejarah gerakan buruh di Indonesia.

Peristiwa tersebut tidak hanya mengguncang publik pada masanya, tetapi juga menjadi titik balik dalam kesadaran kolektif mengenai pentingnya perlindungan terhadap aktivis buruh.

Dalam peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini, Marsinah kembali dihadirkan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Bagi banyak buruh, namanya tidak sekadar bagian dari sejarah, melainkan representasi dari perjuangan yang masih berlanjut hingga hari ini.

“Marsinah adalah simbol bahwa perjuangan buruh tidak boleh berhenti,” ujar salah satu peserta aksi di Monas.

Penggunaan simbol ini mencerminkan upaya buruh untuk mengingatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan belum sepenuhnya terselesaikan, meski telah terjadi berbagai perubahan kebijakan sejak masa lalu.

Sorotan terhadap Marsinah semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menyinggung rencana pembangunan museum yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan buruh, termasuk Marsinah.

Rencana tersebut mendapat respons beragam. Sebagian kalangan menilai langkah ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah gerakan buruh, sekaligus upaya edukasi bagi generasi muda.

Namun, ada pula yang menilai bahwa penghormatan simbolik perlu diiringi dengan penyelesaian substansial terhadap berbagai persoalan ketenagakerjaan yang masih dihadapi hingga saat ini.

Tiga dekade setelah kepergian Marsinah, isu-isu yang diperjuangkannya masih dirasakan relevan. Permasalahan seperti upah layak, perlindungan tenaga kerja, hingga kepastian kerja masih menjadi tuntutan utama buruh di berbagai sektor.

Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa perjuangan tersebut belum selesai. Nama Marsinah kembali diangkat sebagai pengingat bahwa hak-hak buruh harus terus diperjuangkan dan dilindungi.

Bagi kalangan buruh, Marsinah bukan sekadar figur masa lalu, melainkan bagian dari memori kolektif yang membentuk identitas gerakan pekerja di Indonesia.

Pengamat sosial menilai bahwa penguatan simbol-simbol perjuangan seperti Marsinah dapat memperkuat solidaritas buruh, namun tetap diperlukan langkah konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menjawab tuntutan yang ada.

Kembalinya sorotan terhadap Marsinah dalam peringatan May Day 2026 menunjukkan bahwa sejarah dan perjuangan buruh tidak terputus oleh waktu. Di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan yang terus berubah, nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap menjadi pijakan bagi gerakan buruh saat ini.

Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap sejarah harus berjalan seiring dengan upaya nyata dalam mewujudkan keadilan bagi para pekerja.

#HariBuruh #Marsinah #Mayday2026 #Museumburuh #Sejarah