Riyadh sore itu bergemuruh ketika empat perenang muda Indonesia melesat di lintasan air. Di tengah suhu lembab dan tubuh yang nyaris tak bertenaga, mereka menolak menyerah. Farrel, Dwiky, Joe, dan Jason akhirnya menutup perlombaan dengan torehan 3 menit 44,07 detik, memastikan medali perunggu di nomor 4×100 meter medley relay putra pada Islamic Solidarity Games 2025 di Riyadh, Rabu (12/11/2025).
“Ini sesuai prediksi peluang kami di nomor relay. Tapi perjuangan anak-anak luar biasa, mereka bertanding dalam kondisi tidak ideal,” ujar Albert C. Sutanto, kepala pelatih tim renang Indonesia, dalam keterangan resminya.
Tiga dari empat perenang—Farrel, Jason, dan Joe—bertanding dengan flu dan radang tenggorokan. Joe bahkan rela mundur dari nomor individu demi menjaga tenaga untuk estafet. Namun di balik suara serak dan suhu tubuh yang tinggi, mereka tetap menyelam ke kolam, menolak berhenti di tengah arus.
“Farrel, Jason, dan Joe semua lagi flu dan radang. Tapi mereka tetap kasih perlawanan hebat,” lanjut Albert. “Waktu mereka hampir mendekati personal best.”
Perjuangan itu tak hanya soal kecepatan, tapi juga keteguhan hati. Dalam olahraga air yang menuntut fisik prima, tim Indonesia membuktikan bahwa semangat bisa lebih kuat dari tubuh yang sakit.
Di sisi lain, tim putri Indonesia juga tak mau kalah. Kuartet Flairene, Adellia, Azzahra, dan Nadia berhasil mempersembahkan medali perak dengan catatan waktu 4 menit 19,89 detik. Penampilan mereka menjadi pelengkap manis bagi skuad renang Merah Putih di Riyadh.
Meski bukan emas, hasil ini menunjukkan daya juang tim renang Indonesia yang pantang menyerah di tengah tekanan. Di kolam renang yang jauh dari tanah air, mereka membawa pulang lebih dari sekadar medali—mereka membawa cerita tentang keberanian melawan batas diri.
#TimRenangIndonesia #IslamicSolidarityGames2025 #Riyadh2025 #MedaliPerunggu #RenangIndonesia #FarrelDwikyJoeJason #FlaireneAdelliaAzzahraNadia #SemangatAtlet #BeritaOlahraga #IndonesiaBerprestasi












