TERUNGKAP! BERAS ARSENIK — BERBAHAYAKAH UNTUK TUBUH KITA?

 

Beras adalah sumber makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi kabar tentang kandungan arsenik di dalam beras membuat banyak orang bertanya-tanya — apakah nasi yang kita makan setiap hari sebenarnya berisiko bagi kesehatan?

Kekhawatiran itu muncul setelah laporan dari organisasi Healthy Babies Bright Futures pada Mei lalu. Laporan tersebut menyoroti paparan logam berat dalam beras yang beredar di Amerika Serikat, termasuk kadar arsenik, salah satu zat yang dikenal berpotensi berbahaya bagi tubuh manusia.

Ahli gizi Malina Malkani menjelaskan, arsenik memang menjadi perhatian serius di banyak negara karena zat ini secara alami dapat ditemukan dalam air tanah. Dalam konsentrasi tinggi, paparan arsenik bisa berasal dari air minum atau tanaman yang diairi dengan air terkontaminasi.

“Paparan arsenik dalam jangka panjang — apalagi sejak usia muda — dapat meningkatkan risiko kanker, diabetes, penyakit jantung, bahkan kematian dini,” ujar Malkani, dikutip dari Eating Well, Senin (6/10/2025).

Namun, sebelum panik, penting untuk memahami bahwa tidak semua arsenik sama berbahayanya.
Arsenik hadir dalam dua bentuk utama: organik dan anorganik. Arsenik organik yang banyak ditemukan di makanan laut relatif tidak berbahaya, sedangkan arsenik anorganik — yang berasal dari tanah dan air — dikenal lebih toksik dan bisa masuk ke tanaman pangan seperti padi.

Ahli gizi Sharon Palmer menambahkan, kadar arsenik dalam beras bisa berbeda-beda tergantung pada kondisi tanah dan air tempat padi ditanam. Di beberapa wilayah, seperti bagian tenggara Amerika Serikat, tanah masih mengandung residu pestisida berbasis arsenik yang dulu digunakan dalam perkebunan kapas.

“Karena padi tumbuh di lahan tergenang air, maka akar tanaman lebih mudah menyerap arsenik dari tanah. Proses itu membuat biji beras bisa mengandung arsenik lebih tinggi dibanding tanaman pangan lainnya,” jelas Palmer.

Meski begitu, para ahli menegaskan tidak perlu takut makan nasi. Kandungan arsenik dalam beras umumnya masih di bawah ambang batas yang dianggap berbahaya bila konsumsi tetap seimbang dan bervariasi.

Cara memasak juga bisa membantu mengurangi risiko. Membilas beras hingga air cucian bening dan menanaknya dengan air berlebih (seperti metode rebus, lalu tiriskan) dapat menurunkan kadar arsenik hingga 40–60 persen.

Dengan kata lain, bahaya arsenik bukan alasan untuk meninggalkan nasi. Tapi ini pengingat agar kita lebih bijak memilih sumber pangan, memperhatikan asal beras, serta menjaga pola makan yang beragam.

Tubuh manusia selalu punya batas toleransi terhadap paparan zat kimia alami — kuncinya bukan menghindar, melainkan mengatur asupan.

#Beras #Arsenik #Kesehatan #MakananPokok #Nasi #Nutrisi #Kanker #GiziSeimbang #MakanSehat #BeritaKesehatan

News Feed