Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP-DMI) akhirnya angkat suara lantang soal krisis Palestina. Organisasi yang dipimpin Jusuf Kalla (JK) itu menegaskan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina dan perlindungan Masjid Al-Aqsa yang mereka sebut sebagai jantung keyakinan umat Islam.
Nada pernyataan PP-DMI kali ini terdengar tegas. Organisasi yang dipimpin Mohamad Jusuf Kalla (JK) itu tidak sekadar mengulang jargon lama soal solidaritas, melainkan langsung menyorot blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Blokade yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu dituding jadi biang kerok kelaparan akut, runtuhnya sistem kesehatan, hingga sulitnya bantuan kemanusiaan masuk.
“PBB dan komunitas global harus menekan Israel agar segera membuka blokade Gaza,” tegas PP-DMI dalam pernyataan yang ditandatangani Jusuf Kalla bersama Sekjen Rahmat Hidayat.
Desakan tak berhenti di situ. DMI juga menuding Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara besar terlalu lama menunda pengakuan atas kedaulatan Palestina. Menurut mereka, sikap setengah hati dunia internasional hanya memperpanjang penderitaan.
Kepada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), DMI mendorong agar lebih agresif melindungi Masjid Al-Aqsa dari provokasi dan upaya pengambilalihan paksa. Di level internal Palestina, seruan rekonsiliasi pun dilontarkan. DMI meminta faksi-faksi besar seperti Fatah dan Hamas menghentikan friksi internal agar energi perjuangan tak habis oleh konflik sesama saudara.
Pernyataan ini sekaligus ditujukan untuk publik Indonesia. DMI mengimbau para khotib di seluruh negeri menyelipkan tema Palestina dan doa khusus untuk kemerdekaan dalam khutbah Jumat. Mereka juga meminta pemerintah, ormas Islam, hingga pesantren terus menjaga konsistensi dukungan diplomatik maupun kemanusiaan.
“Ini bukan sekadar isu politik, melainkan panggilan kemanusiaan dan nurani,” begitu garis besar pesan yang ingin mereka sampaikan.
Solidaritas untuk Palestina seakan menemukan gaung baru lewat sikap resmi PP-DMI. Meski seruan keras ini bukan kali pertama dilontarkan, nada yang lebih mendesak membuat pernyataan kali ini terasa berbeda.






