Jagat media sosial kembali diramaikan isu mencekam. Kali ini, beredar tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diunggah ke Twitter. Isinya: klaim adanya korban pemerkosaan saat unjuk rasa besar di Jakarta pada 31 Agustus 2025. Pesan itu bahkan menyebut korban sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia (RSU UKI).
Sekilas, narasi itu terasa mengerikan. Kata “pemerkosaan” menyodok langsung ke urat nadi trauma kolektif bangsa—mengingat luka lama Mei 1998, ketika perempuan, terutama dari etnis Tionghoa, menjadi korban kekerasan seksual massal. Isu semacam ini bukan hanya sensitif, tapi juga berpotensi memicu provokasi politik dan sosial.
Namun, setelah ditelusuri, klaim itu terbukti bohong. Pihak RSU UKI melalui Rudi, pegawai marketing rumah sakit tersebut, menegaskan tidak ada pasien korban pemerkosaan dalam beberapa hari terakhir. Penelusuran lebih lanjut juga tidak menemukan bukti adanya laporan resmi maupun pemberitaan kredibel terkait peristiwa tersebut.
Artinya, informasi itu murni hoaks. Narasi dipelintir, disusupi konteks sejarah kelam, lalu ditebar di tengah tensi politik yang sedang panas. Tujuannya jelas: mengguncang emosi publik, menyalakan bara curiga, dan memperkeruh suasana.
Publik perlu mawas diri. Isu kekerasan seksual terlalu serius untuk dijadikan bahan gorengan politik. Meneruskan kabar palsu tanpa verifikasi sama saja dengan melukai para penyintas nyata yang masih menanggung trauma.
Di era banjir informasi, satu-satunya jalan selamat adalah kehati-hatian. Percayalah hanya pada media kredibel. Jangan biarkan rumor keji mengatur emosi kita.






