INI BUKTI PESISIR BISA JADI LUMBUNG SEMANGKA

Ekonomi, Fokus, Regional842 Dilihat

Sekitar 10 ton semangka berhasil dipanen dari lahan pasir pesisir di Dusun Pemukiman, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Hasil itu didapat dari lahan seluas 0,5 hektare yang dikelola kelompok tani lokal dengan pendampingan aktif Babinsa sebagai bagian dari program ketahanan pangan TNI AD.

Anggota Koramil 0821-10/Tempeh, Kopda TNI Ahmad Latip, menyampaikan bahwa panen ini merupakan bukti keberhasilan pemanfaatan lahan non-konvensional untuk pertanian produktif. “Panen ini adalah bukti bahwa pertanian tidak mengenal batas. Pesisir pun bisa produktif jika dikelola dengan sungguh-sungguh,” ujar Latip saat ditemui di lokasi panen, Rabu (9/7/2025).

Menurutnya, peran Babinsa dalam mendampingi petani bukan hanya teknis, tapi juga strategis. Babinsa bertugas menjembatani komunikasi antara petani, penyuluh pertanian, dan pemerintah desa. Pendampingan dilakukan secara langsung, dari perencanaan hingga panen.

Ketua Kelompok Tani Tani Jaya, Hafidz, mengakui bahwa bertani di tanah pesisir bukan perkara mudah. Lahan berpasir cenderung tidak menyimpan air dan rawan kekeringan. Namun, berkat irigasi sederhana dan jadwal tanam yang tepat, petani berhasil memaksimalkan pertumbuhan tanaman semangka.

“Alhamdulillah, hasil panen kali ini sangat memuaskan. Kami merasa tidak sendiri karena Babinsa selalu hadir mendampingi,” ujar Hafidz.

Sula, salah satu pemilik lahan, mengaku awalnya sempat meragukan potensi lahan pasir. Namun kerja keras dan pendampingan berkelanjutan membuktikan bahwa hasil bisa luar biasa jika dikelola dengan sabar dan disiplin. “Awalnya banyak yang meragukan. Tapi ternyata, kalau mau sabar dan dirawat, hasilnya bisa luar biasa,” katanya.

Semangka pesisir Pandanwangi kini mulai menarik perhatian pasar regional, termasuk dari Malang hingga Surabaya. Permintaan tersebut membuka peluang baru bagi desa pesisir untuk berkembang sebagai sentra penghasil buah segar.

Berdasarkan data Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tempeh, potensi produksi semangka di pesisir Lumajang mencapai 20 ton per hektare. Angka tersebut terbilang kompetitif jika dibandingkan dengan wilayah pertanian lain di Jawa Timur.

Kepala Desa Pandanwangi, Edi Santoso, menyatakan bahwa kolaborasi antara petani dan Babinsa menjadi contoh pembangunan desa yang partisipatif dan berkelanjutan. “Ini bukan proyek instan. Ini kerja bersama yang pelan tetapi kokoh. Yang terpenting, masyarakat menjadi lebih percaya diri,” ujarnya.

Latip menambahkan bahwa konsep ketahanan pangan harus dimaknai sebagai bagian dari pertahanan negara. “Jika rakyat sejahtera dan mandiri, negara akan semakin kuat,” tegasnya.

Cerita sukses petani semangka di pesisir selatan Lumajang ini menunjukkan bahwa desa yang semula dianggap marginal bisa menjadi kekuatan baru dalam menghadapi tantangan pangan nasional. Pendekatan gotong royong dan pendampingan nyata menciptakan efek domino yang menggerakkan ekonomi desa secara menyeluruh.

Dari tanah pasir yang panas dan berangin, warga Pandanwangi membuktikan bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, kehidupan tetap bisa tumbuh subur.