GAZA: SAJAK DERITA DI BALIK KOTAK BANTUAN

Fokus, Opini811 Dilihat

Oleh HM Iqbal Miad, MM, Pemimpin Umum

Di tengah reruntuhan Gaza yang porak-poranda, bantuan kemanusiaan seharusnya menjadi oase harapan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: distribusi bantuan telah berubah menjadi alat kontrol dan penindasan. Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah inisiatif yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel, kini mendapat sorotan tajam karena metode distribusinya yang kontroversial.

Bantuan yang Dipersenjatai

GHF mengoperasikan pusat distribusi bantuan yang dijaga ketat oleh kontraktor keamanan bersenjata asal Amerika Serikat. Alih-alih menciptakan rasa aman, kehadiran mereka menimbulkan ketakutan dan kekacauan. Pada hari pertama operasinya, terjadi insiden penembakan yang menewaskan satu warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. GHF membantah adanya korban, namun rekaman video dan laporan saksi mata menunjukkan sebaliknya .

Distribusi yang Tidak Merata

GHF hanya memiliki empat pusat distribusi, sebagian besar terletak di Rafah, wilayah yang telah menerima peringatan evakuasi dari militer Israel. Hal ini memaksa warga Gaza yang kelaparan untuk menempuh perjalanan panjang dan berbahaya demi mendapatkan bantuan. Distribusi yang terbatas ini tidak hanya tidak efisien, tetapi juga menimbulkan risiko besar bagi warga sipil .

Krisis Kemanusiaan yang Mendalam

Sejak Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Palestina telah tewas, dan sekitar 90 % populasi Gaza mengalami pengungsian berulang kali. Kondisi ini diperparah oleh blokade yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan. Banyak organisasi internasional, termasuk PBB, menolak berpartisipasi dalam distribusi bantuan yang dikendalikan oleh GHF karena kekhawatiran terhadap netralitas dan prinsip-prinsip kemanusiaan .

Seruan untuk Tindakan Internasional

Penggunaan bantuan sebagai alat kontrol politik dan militer merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Komunitas internasional harus mengambil langkah tegas untuk memastikan bahwa bantuan didistribusikan secara adil, aman, dan tanpa diskriminasi. PBB dan organisasi kemanusiaan independen harus diberikan akses penuh untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan tanpa campur tangan politik atau militer.

Gaza bukan sekadar wilayah konflik; ia adalah cermin yang memantulkan kegagalan kita dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika bantuan berubah menjadi alat penindasan, kita harus bertanya: di manakah letak nurani kita? Sudah saatnya dunia bersatu untuk mengakhiri penderitaan ini dan mengembalikan martabat kepada mereka yang telah lama dirampas hak-haknya. ***

#GazaUnderSiege #HumanitarianCrisis #JusticeForPalestine #EndTheBlockade #AidNotWar