Suasana di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (5/4/2025) sore, berbeda dari biasanya. Ribuan penumpang memenuhi ruang tunggu, membawa koper, kardus, dan oleh-oleh khas kampung halaman. Senyum lelah tapi bahagia terukir di wajah mereka, bersiap kembali ke rutinitas kota besar setelah sepekan berlebaran di kampung halaman.
Di tengah keramaian itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, terus bersiap. Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa puncak arus balik Lebaran 2025 diperkirakan terjadi Minggu, 6 April 2025.
“Besok akan menjadi hari tersibuk bagi KAI dalam periode Angkutan Lebaran tahun ini,” kata Anne kepada wartawan di Jakarta. Menurutnya, hingga Sabtu ini, lebih dari 209.000 tiket untuk tanggal 6 April telah terjual. Mayoritas di antaranya adalah tiket Kereta Api Jarak Jauh, yang menjadi andalan pemudik untuk menempuh perjalanan antar kota.
Sejak 21 Maret lalu, kereta-kereta KAI tak henti mengangkut pemudik. Tercatat lebih dari 3 juta orang sudah diantar pulang pergi. Dengan total 4,5 juta tempat duduk yang disiapkan hingga 11 April mendatang, KAI bekerja keras memastikan semua penumpang mendapat layanan terbaik.
“Tingkat keterisian mencapai hampir 90 persen. Khusus KA Jarak Jauh, okupansi bahkan sudah 102 persen,” jelas Anne. Sementara itu, okupansi Kereta Api Lokal tercatat 53 persen, menunjukkan bahwa banyak masyarakat memilih moda transportasi ini untuk jarak pendek.
Namun di balik kenyamanan perjalanan, Anne mengingatkan pentingnya disiplin penumpang dalam menggunakan fasilitas umum. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penggunaan stop kontak di kereta.
“Stop kontak di setiap kursi hanya untuk isi daya ponsel, tablet, atau laptop. Tidak boleh untuk alat elektronik berat seperti rice cooker atau hair dryer,” tegas Anne. Ia menjelaskan bahwa penggunaan berlebih bisa mengganggu sistem listrik kereta dan membahayakan keselamatan perjalanan.
Imbauan ini bukan tanpa sebab. Beberapa insiden kecil pernah terjadi karena penumpang ceroboh dalam memakai fasilitas umum. Kini, KAI memperketat pengawasan dan memasang peringatan di setiap gerbong.
Di sela pengumuman resmi, KAI juga terus berbenah. Mereka meningkatkan respons terhadap laporan penumpang, mulai dari kerusakan kecil hingga keluhan pelayanan. “Kami ingin penumpang merasa aman dan nyaman selama perjalanan panjang ini,” ujar Anne.
Sebagian besar penumpang yang ditemui di stasiun mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan. Lita (32), salah satu penumpang KA Taksaka tujuan Yogyakarta, mengaku terkesan dengan kebersihan stasiun dan ketepatan waktu keberangkatan.
“Capek, tapi senang. Setidaknya nggak stres nunggu kereta seperti zaman dulu,” kata Lita sambil tersenyum.
Besok, stasiun-stasiun besar seperti Gambir, Pasar Senen, Bandung, Semarang Tawang, dan Surabaya Gubeng diperkirakan akan penuh sesak. KAI sudah menyiapkan tambahan personel di lapangan, penataan arus penumpang, serta pelayanan ekstra di dalam kereta.
Arus balik ini menandai berakhirnya momen silaturahmi tahunan. Di tengah hiruk pikuk koper, ransel, dan bocah-bocah mengantuk, ada semangat baru yang lahir: semangat kembali berjuang di kota perantauan.
Kereta-kereta malam akan terus berderu membawa pulang mimpi-mimpi baru, mengantar penumpang kembali ke realitas penuh tantangan, sambil membawa bekal kenangan hangat dari kampung halaman.
SUMBER : ANTARA






