Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan, seiring dengan eskalasi perang dagang Amerika Serikat (AS) yang mengerek tarif impor terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia. Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengingatkan bahwa rupiah berpotensi menyentuh level Rp16.900 hingga Rp17.000 dalam waktu dekat.
“Perang dagang ini membuat mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan, dan kemungkinan besar dalam minggu-minggu ini pembukaan pasar di level Rp16.900 akan terjadi. Ada kemungkinan besar akan pecah telur juga di Rp17.000. Ini harus diwaspadai,” ujar Ibrahim di Jakarta, Kamis.
Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah melemah sebesar 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.746 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.713 per dolar AS.
Kenaikan Tarif Impor AS dan Dampaknya ke Indonesia
Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu (2/4) mengumumkan kebijakan kenaikan tarif sedikitnya 10 persen terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia. Negara ini masuk dalam daftar delapan besar yang terkena kebijakan tersebut, dengan besaran tarif mencapai 32 persen.
Selain Indonesia, beberapa negara Asia Tenggara lainnya yang terdampak adalah:
Malaysia: 24 persen
Kamboja: 49 persen
Vietnam: 46 persen
Thailand: 36 persen
Trump menegaskan bahwa tarif timbal balik ini bertujuan menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri. Ia menuding banyak negara telah “merugikan” AS melalui praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Kebijakan ini diumumkan dalam acara “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih.
Strategi Indonesia Hadapi Perang Dagang
Ibrahim menilai Indonesia harus melakukan langkah-langkah strategis guna mengatasi dampak negatif dari kebijakan perdagangan AS. Salah satunya dengan menerapkan tarif impor serupa terhadap produk-produk asal AS.
“Pemerintah harus melakukan perlawanan terhadap Amerika dengan menerapkan biaya impor yang harganya sama, yaitu 32 persen,” ujarnya.
Selain itu, ia menyarankan agar Indonesia lebih gencar memanfaatkan BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) sebagai pasar alternatif untuk ekspor, mengingat hubungan dagang dengan AS semakin menantang.
Ibrahim juga menekankan pentingnya intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah. Langkah yang bisa diambil antara lain melalui perdagangan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta memperkuat cadangan valuta asing dan obligasi.
“BI harus tetap aktif di pasar agar meskipun perang dagang AS semakin agresif, Indonesia sudah siap dengan strategi perlawanan balik,” tandasnya.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, semua pihak diharapkan lebih waspada terhadap dampak lanjutan perang dagang ini, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.






