PRABOWO STOP IMPOR BERAS, PETANI LUMAJANG BERSORAK

Ekonomi, Fokus, Nasional946 Dilihat

Kebijakan penghentian sementara distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Bulog sejak 7 Februari 2025 disambut baik oleh petani lokal. Langkah ini diambil sesuai instruksi Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI untuk mendorong penyerapan hasil panen raya dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Presiden Prabowo Subianto juga mengambil keputusan strategis dengan menghentikan impor beras guna memenuhi kebutuhan nasional. Keputusan ini tidak hanya menguntungkan petani lokal, tetapi juga berdampak pada penurunan harga beras di pasar dunia. Agar kebijakan ini berjalan efektif, pemerintah melarang alih fungsi lahan pertanian sehingga produksi dalam negeri terus meningkat.

Para petani di berbagai daerah menyambut baik kebijakan ini. Sebelumnya, pasokan beras impor yang berlimpah membuat harga gabah lokal turun, sehingga mereka kesulitan mendapatkan keuntungan optimal. Dengan dihentikannya impor dan distribusi beras SPHP, harga gabah diharapkan tetap stabil dan lebih menguntungkan petani.

Analis Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Lumajang, Ika Wahyuni Hariyanti, menjelaskan bahwa beras impor sebelumnya telah menghambat penyerapan beras lokal di pasaran.

“Pemberhentian sementara distribusi beras SPHP bertujuan agar Bulog lebih fokus menyerap hasil panen petani, termasuk dari Lumajang. Selain itu, langkah ini juga menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani selama panen raya,” jelas Ika saat dikonfirmasi, Kamis (20/2/2025).

Kebijakan ini sempat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, karena beras SPHP dikenal lebih murah. Namun, pemerintah meyakini bahwa dalam jangka panjang, langkah ini akan memberikan manfaat besar bagi petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Untuk mendukung keberlanjutan kebijakan ini, masyarakat Lumajang diimbau untuk mengkonsumsi beras lokal, yang tersedia dalam berbagai kualitas, mulai dari jenis medium hingga premium. Dengan kebijakan ini, diharapkan keseimbangan antara produksi dan konsumsi beras dalam negeri semakin terjaga, sehingga petani lebih sejahtera dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong inovasi dalam sektor pertanian, termasuk penggunaan teknologi pertanian modern dan peningkatan kualitas benih. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta mengurangi ketergantungan pada impor beras.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat juga akan berperan aktif dalam memberikan pendampingan kepada petani, mulai dari teknik budidaya hingga pemasaran produk. Dengan demikian, produksi beras lokal dapat terus meningkat dan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat secara lebih optimal.

Masyarakat diharapkan lebih memilih beras lokal, yang memiliki kualitas baik serta harga kompetitif. Dengan dukungan penuh dari semua pihak, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.