China Kecam Sikap PM Jepang Soal Sejarah Perang Dunia II

BEIJING — Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik diwarnai ketegangan diplomatik antara China dan Jepang, setelah Beijing melayangkan kecaman keras terhadap sikap Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang dinilai enggan merefleksikan kekejaman masa lalu negaranya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan kecaman tersebut pada Senin, 17 Agustus 2026, tepat bersamaan dengan peringatan 81 tahun kemenangan China atas agresi Jepang periode 1937 hingga 1945. Ia menilai sikap Takaichi berpotensi memutarbalikkan fakta sejarah, sekaligus mendesak para pemimpin Jepang untuk mendengarkan aspirasi rakyatnya sendiri maupun komunitas internasional, merenungkan dalam-dalam kejahatan perang yang pernah dilakukan, serta benar-benar melepaskan diri dari bayang-bayang militerisme.

Kritik ini bermula dari pidato Takaichi dalam Upacara Peringatan Nasional untuk Korban Perang yang digelar di Nippon Budokan Hall, Tokyo, Sabtu, 15 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Takaichi mengenang penderitaan besar yang dialami korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pertempuran Okinawa, hingga korban di berbagai front pertempuran luar negeri, sembari menekankan pengorbanan mereka menjadi fondasi kedamaian dan kemakmuran Jepang saat ini. Namun ia sama sekali tidak menyinggung sejarah agresi Jepang terhadap negara-negara tetangga di Asia, tidak menyampaikan penyesalan, maupun permintaan maaf, berbeda dengan pendahulunya Shigeru Ishiba yang setahun sebelumnya secara eksplisit menegaskan penyesalan dan tekad menolak perang.

Meski memilih tidak mengunjungi langsung Kuil Yasukuni yang menjadi simbol kontroversial karena turut mengabadikan 14 penjahat perang Kelas A Perang Dunia II, Takaichi tetap mengirimkan persembahan berupa dana pribadi dalam kapasitasnya sebagai Presiden Partai Demokrat Liberal, serta sempat melakukan penghormatan jarak jauh ke arah kuil tersebut sesaat sebelum menghadiri upacara. Langkah ini dinilai sejumlah pengamat sebagai upaya menjaga hubungan diplomatik dengan China dan Korea Selatan, tanpa sepenuhnya melepaskan simbolisme politik domestiknya.

Di hari yang sama, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi bersama sejumlah anggota kabinet lain justru mendatangi langsung Kuil Yasukuni, menandai tahun ketujuh berturut-turut kunjungan pejabat kabinet Jepang ke lokasi tersebut pada 15 Agustus. Media massa Jepang sendiri turut menyoroti absennya kata penyesalan dalam pidato Takaichi, dengan editorial surat kabar Mainichi Shimbun mengingatkan bahwa kredibilitas Jepang sebagai negara cinta damai berisiko terkikis apabila pelajaran dari sejarah perang tidak dihadapi secara terbuka.

Lin Jian turut menyinggung kunjungan sejumlah tokoh politik Jepang ke kuil kontroversial tersebut sebagai cerminan dukungan tersembunyi terhadap romantisme masa lalu perang agresi. Ia menegaskan hanya dengan menghadapi kebenaran sejarah secara jujur, sebuah bangsa dapat benar-benar menghindari pengulangan kesalahan yang sama di masa depan.

Ketegangan diplomatik seputar interpretasi sejarah Perang Dunia II ini menambah daftar panjang friksi antara Beijing dan Tokyo, yang hingga kini masih kerap terjebak perdebatan sensitif soal cara pandang generasi pemimpin Jepang terhadap warisan kelam masa penjajahan dan agresi militer di kawasan Asia pada paruh pertama abad ke-20.

#ChinaJepang #SanaeTakaichi #KuilYasukuni #SejarahPerangDunia2 #KejahatanPerang #DiplomasiAsia #ShinjiroKoizumi #HubunganChinaJepang #GeopolitikAsiaPasifik #BeritaInternasional