JK di Paramadina: Rupiah Jatuh, Begal Marak, dan Akademisi Takut Bicara

Ekonomi, Nasional542 Dilihat

Jakarta – Bukan ceramah biasa. Di hadapan para mahasiswa dan akademisi Universitas Paramadina, Selasa (9/6/2026), mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla membedah kondisi ekonomi Indonesia dengan bahasa yang lugas dan tak basa-basi: krisis sudah datang dan ada tiga tanda yang bisa dilihat siapa pun tanpa harus membaca laporan BPS.

Sinyal Pertama: Pelarian dari Rupiah

JK menyoroti pelemahan rupiah yang kini telah menyentuh Rp18.000 per dolar AS sebagai cerminan dari runtuhnya kepercayaan publik terhadap mata uang sendiri.

“Kenapa rupiah menurun dan dolar naik? Ya karena orang banyak simpan dolar karena tidak percaya kepada rupiah. Makin banyak orang simpan dolar, nah itu berarti nilai rupiah makin turun karena orang lepas rupiahnya. Itu supply and demand,” ujar JK dalam Seminar Publik bertema Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis tersebut.

JK mengingatkan bahwa sepanjang tahun berjalan 2026, rupiah telah melemah sekitar 7 persen sebuah tekanan yang menyebar dari pasar modal hingga ke ekonomi rakyat di pasar fisik.

Sinyal Kedua: Mal Ramai tapi Tas Belanjaan Kosong

JK meminta publik tidak keliru membaca data. Ramainya pusat perbelanjaan bukan berarti daya beli pulih. Ia memisahkan antara pasar modal dan pasar riil.

“Kalau mau lihat mal itu daya beli menurun, lihat orang di mal itu berapa orang yang bawa tas plastik? Yang rame itu tempat dingin, kulinernya,” paparnya. Ia membagi motif kunjungan ke mal menjadi tiga: belanja, makan, atau sekadar menikmati pendingin udara karena keterbatasan fasilitas di rumah.

Di pasar modal pun kondisi tak lebih cerah. Saham-saham sektor komoditas tambang dan perbankan besar yang dulu mencetak laba puluhan triliun kini dilepas investor. “Orang berpikir dalam kondisi begini ekonomi pasti turun keuntungannya, maka orang menjual saham perbankan, turunlah nilainya,” kata JK.

Sinyal Ketiga: Begal adalah Indikator Ekonomi

Ini bagian paling mengejutkan dari orasi JK. Ia mengaitkan maraknya kriminalitas jalanan langsung dengan lonjakan pengangguran bukan sebagai analisis kriminologi, melainkan sebagai indikator ekonomi.

“Orang curi sepeda motor, ada begal kan? Begal sudah banyak, banyak kriminal. Itu berarti banyak menganggur, banyak orang tidak ada pekerjaan. Kenapa begini? Ya karena memang uang kurang. Kurang makan, kurang mau biayai anaknya, tidak ada cara lain selain dia berbuat yang tidak sesuai,” tegasnya.

Kekhawatiran JK sejalan dengan proyeksi IMF yang memperkirakan tingkat pengangguran Indonesia akan meningkat ke 5,1 persen pada 2026, sementara OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya 4,8 persen di bawah target pemerintah.

Senggolan Pedas untuk Rektor yang Bungkam

JK tak berhenti di data. Ia juga menyentil dunia akademik yang ia nilai memilih senyap ketika negara membutuhkan suara kritis.

“Universitas negeri sekarang hampir tidak ada berkomentar. Kasihan juga. Kan rektornya diancam kalau macam-macam. Universitas-nya Komisaris Mandiri? Ah rektornya. Jadi yang selalu berkomentar dosen sebenarnya. Dosen ketakutan, nanti rektornya takut tidak dipilih lagi oleh pemerintah. Supaya dipilih lagi, makanya dia cari aman saja,” sindirnya.

Ini bukan pertama kali JK membunyikan alarm. Sejak Maret 2026 ia sudah menyebut Indonesia tengah memasuki fase ekonomi yang mengkhawatirkan akibat menyempitnya ruang fiskal dan melemahnya kepercayaan pelaku usaha.

#JusufKalla #JKParamadina #EkonomiIndonesia #RupiahMelemah #DayaBeliAmbruk #KriminalitasNaik #BegalEkonomi #PengangguranIndonesia #KrisisEkonomi2026 #SeminarParamadina #IndikatorEkonomi #WapresJK #AkademisiBungkam #BadaiEkonomi #PeringatanKrisis