Jakarta – Pertengkaran diplomatik terbuka antara Beirut dan Teheran pecah secara terbuka. Presiden Lebanon Joseph Aoun secara lantang menuduh Iran menjadikan negaranya sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat dan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi tidak tinggal diam.
Aoun Melawan: “Ini Negara Kami Bukan Negara Kalian”
Dalam wawancara eksklusif bersama CNN yang diwawancarai Christiane Amanpour di Istana Presiden Beirut, Aoun menyampaikan kecaman keras terhadap Iran. Ia menegaskan rakyat Lebanon sudah jenuh dengan perang antara Israel dan Hizbullah yang tak kunjung usai.
Aoun secara terang-terangan menyebut IRGC tidak berhak menentukan nasib negaranya. “Ini bukan negara kalian, ini negara kami. Iran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar dalam negosiasi mereka dengan AS. Ini tidak bisa diterima,” tegasnya.
Kritik Aoun muncul setelah Israel dan Lebanon menyepakati perpanjangan gencatan senjata pada Rabu sebelumnya. Namun Hizbullah langsung menolak kesepakatan itu. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menyebut kesepakatan Washington sebagai sesuatu yang “merendahkan Lebanon” dan ditolak oleh “segmen luas rakyat Lebanon.”
Aoun membalas Qassem secara langsung: “Rakyat Lebanon bukan rakyatmu.” Ia menambahkan baik Netanyahu maupun Hizbullah tengah menjalankan “perang sia-sia” yang tidak akan menghasilkan apa pun bagi kedua pihak.
Araghchi Balik Menyerang Lewat Media Sosial
Merespons cuplikan wawancara CNN tersebut, Menlu Iran Abbas Araghchi membalas melalui akun X-nya dengan nada sinis. “Seandainya Lebanon memang menjadi alat tawar Iran, kami pasti sudah mencapai kesepakatan sejak lama,” tulisnya.
Araghchi kemudian melempar balik tanggung jawab kepada Aoun dengan sindiran yang menusuk: siapa sesungguhnya yang selama ini menduduki wilayah Lebanon, mengusir warganya, dan membombardir negaranya setiap hari?
“Selamatkan Lebanon dari musuh sesungguhnya, Tuan Presiden,” tulisnya — sebuah pernyataan yang secara tersirat menunjuk Israel sebagai ancaman nyata bagi kedaulatan Lebanon.
Konteks: Lebanon Terjebak di Antara Dua Kepentingan Besar
Lebanon kini berada dalam posisi yang sangat terjepit. Negara yang telah dilemahkan selama puluhan tahun oleh campur tangan asing dan perpecahan sektarian itu berupaya melucuti senjata Hizbullah demi memutus pengaruh kelompok tersebut sekaligus menghentikan agresi Israel.
Serangan Israel sejak Maret 2026 telah menewaskan ribuan warga Lebanon dan memaksa 1,2 juta orang mengungsi. Pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan.
Di tengah tekanan itu, Aoun menegaskan sikapnya untuk menempuh jalur diplomatik langsung dengan Israel meski ditentang kepemimpinan Hizbullah. “Kami siap, kami bersedia, kami berkomitmen,” ujarnya. Ia menilai ini adalah peluang besar bagi Lebanon dan Israel untuk mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung sejak 1948.
Ketegangan Beirut dengan Teheran kini mencerminkan satu kenyataan pahit: Lebanon ingin menentukan nasibnya sendiri namun masih tersandera oleh perang orang lain di tanahnya sendiri.
#LebanonVsIran #JosephAoun #AbbasAraghchi #LebanonMerdeka #KonflikTimurTengah












