Jakarta – Pemilu sela Amerika Serikat (AS) menjadi ujian besar bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Hasilnya akan menentukan apakah Trump masih bisa menjalankan agenda legislatifnya atau harus menghadapi Kongres yang dikuasai oposisi. Sejumlah analis menilai kekalahan telak dapat mempercepat berakhirnya era gerakan MAGA.
Texas jadi sorotan
Perhatian tertuju pada Texas, negara bagian yang belum memilih politikus Demokrat untuk jabatan tingkat negara bagian sejak 1994. Di sana, James Talarico, mantan guru sekolah negeri dari Demokrat, menantang Jaksa Agung Texas Ken Paxton dari Republik. Menurut CNBC Indonesia, Paxton lama dibayangi tuduhan korupsi, skandal pribadi, dan penipuan sekuritas. Laporan yang sama menyebut dukungan dana luar untuk Republik mencapai US$300 juta, dipimpin Elon Musk.
Paxton memenangi nominasi Republik atas Senator John Cornyn dengan dukungan Trump. Jajak pendapat Fox News mencatat keduanya imbang di angka 49 persen. Survei Quantus terbaru menunjukkan Paxton unggul tipis 48,7 persen berbanding 47,6 persen. Analis politik Jacobs menyebut Texas sebagai “referendum yang menghancurkan bagi Donald Trump” jika Paxton kalah.
Peta perebutan Kongres
Demokrat diunggulkan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pasar prediksi memberi mereka peluang sekitar 92 persen untuk merebut DPR. Senat lebih sulit. Republik menguasai 53 dari 100 kursi, sehingga Demokrat perlu tambahan bersih empat kursi. Peringkat persetujuan Trump yang buruk dan tekanan ekonomi akibat perang Iran memperluas medan tempur hingga ke negara bagian yang dimenangi Trump dengan selisih dua digit pada 2024.
Di Ohio, mantan senator Sherrod Brown menantang petahana Jon Husted dengan mengangkat kemarahan pekerja soal harga bahan bakar dan penutupan pabrik. Di Michigan, Mike Rogers dari Republik berhadapan dengan Abdul El-Sayed, dokter berusia 41 tahun yang ingin menjadi senator Muslim pertama AS. Di Maine, Senator Susan Collins berjuang melawan Troy Jackson. Di Alaska, Mary Peltola menantang Senator Dan Sullivan, di tengah sengketa hukum soal sertifikasi hasil pemilihan.
Kekhawatiran integritas pemilu
Klaim Trump yang berulang tentang kecurangan pemilu membuat Demokrat dan organisasi hak pilih menyiapkan tim hukum. Pemerintah menyatakan pemantau federal akan mematuhi hukum dan membantah rencana mengerahkan militer atau agen imigrasi ke tempat pemungutan suara. Tara Setmayer dari Seneca Project mengaku khawatir Trump akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun.
Dampak jika Demokrat menang
Jika Demokrat menguasai salah satu majelis, agenda domestik Trump akan terhambat dan pemerintahannya lebih bergantung pada perintah eksekutif. Hakeem Jeffries, calon ketua DPR dari Demokrat, berjanji menggunakan kewenangan panggilan pengadilan untuk menyelidiki dugaan korupsi pemerintahan dan urusan keuangan keluarga Trump. Sejarah juga tidak berpihak pada partai berkuasa. Sejak 1946, partai penghuni Gedung Putih kehilangan kursi DPR pada 18 dari 20 pemilu sela, dengan rata-rata 26 kursi. Di sisi lain, Republik masih punya peluang di Senat dan unggul di Texas dalam sebagian survei.
#PemiluSelaAS #DonaldTrump #PartaiRepublik #PartaiDemokrat #Texas #KenPaxton #JamesTalarico #KongresAS #PolitikAmerika #BeritaInternasional






