Jakarta – Menjelang perundingan penting di Kairo akhir pekan ini, Hamas memancangkan garis merah yang tegas: tidak ada penyerahan senjata dalam waktu dekat. Pernyataan itu semakin mempersempit ruang negosiasi yang sudah sempit sejak gencatan senjata Oktober 2025 disepakati.
Anggota biro politik Hamas Husam Badran menyampaikan kompromi terbatas: ketika Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) mengambil alih wilayah tersebut, tidak akan ada senjata yang tampak di jalan-jalan dan gang-gang Gaza kecuali milik polisi resmi Palestina. “Kami tidak bicara soal menyerahkannya. Kami bicara, setidaknya, senjata tidak terlihat kecuali senjata resmi polisi Palestina,” ujar Badran kepada Al Jazeera.
Perwakilan tinggi AS untuk Gaza Nickolay Mladenov sebelumnya telah mempresentasikan peta jalan 15 poin dan mengklarifikasi bahwa tidak ada kelompok bersenjata Palestina yang diwajibkan menyerahkan senjata kepada Israel melainkan pelucutan senjata akan dilakukan secara bertahap dan dipimpin oleh pihak Palestina sendiri dengan semua senjata diserahkan kepada NCAG, namun Hamas tetap menolak.
Hamas dan faksi-faksi Palestina menggelar konsultasi internal di Kairo pada 6 Juni sebelum menemui para mediator pada 7 Juni. Pertemuan itu melibatkan delegasi Hamas yang dipimpin kepala negosiator Khalil al-Hayya bersama mediator dari Mesir, Turki, dan Qatar.
Perundingan di Kairo akan mempertemukan delapan faksi Palestina untuk membangun sikap bersama, yakni Hamas, Jihad Islam Palestina, Front Populer untuk Pembebasan Palestina, Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina, Inisiatif Nasional, Komite Perlawanan Rakyat, dan arus reformasi Demokratik yang berafiliasi dengan Fatah.
Hamas juga menuding Israel tidak memenuhi kewajiban tahap pertama gencatan senjata. Badran menyatakan hanya sekitar 150 hingga 250 truk bantuan yang masuk setiap hari ke Gaza, padahal jumlah yang disepakati mencapai 600 truk per hari. “Sekitar 1.000 orang telah terbunuh sejak gencatan senjata berlaku,” tegasnya.
Mesir, Qatar, dan sejumlah mediator internasional terus memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara Hamas dan Israel. Kairo selama ini menjadi pusat berbagai putaran negosiasi yang bertujuan menghentikan perang, memfasilitasi pertukaran tahanan, serta memperluas akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.
Isu utama yang terus menghambat kemajuan perundingan adalah tuntutan Israel agar Hamas dilucuti sebelum ada kemajuan dalam isu kemanusiaan atau penarikan pasukan tuntutan yang mendapat penolakan keras dari Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya.
Al Jazeera melaporkan total korban tewas sejak Oktober 2023 telah mencapai 72.942 orang dan 172.967 lainnya terluka. Sementara sejak gencatan senjata berlaku, operasi militer Israel masih menewaskan 933 warga Palestina dan melukai 2.868 orang.
Dengan posisi Hamas yang tak bergeser dan Israel yang menjadikan pelucutan senjata sebagai syarat mutlak masuk ke fase dua, Kairo kini menjadi arena tawar-menawar terakhir yang menentukan apakah perdamaian Gaza masih mungkin dijangkau.
#GazaCeasefire #HamasNegotiation #PerundinganKairo #GencatanSenjataGaza #PalestinaMerdeka #HamasIsrael #KorbanGaza #PeaceGaza #KhalilaHayya #HusamBadran #NCagPalestina #BantuanKemanusiaanGaza #TimurTengah #GeopolitikGaza #StopGenosida






