Dimaki Trump dan Dicap Gila Netanyahu Pilih Bungkam dan Akui Hanya Beda Taktik

Hukum, Internasional275 Dilihat

Jakarta – Dalam politik dunia, jarang ada momen yang lebih mengejutkan daripada seorang kepala negara secara terbuka mengakui bahwa ia memaki sekutunya sendiri dengan kata-kata kasar. Namun itulah yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan dunia menyaksikannya.

Trump membenarkan kabar bahwa ia sempat membentak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyebutnya “benar-benar gila.”

Saat ditanya langsung oleh pewawancara apakah ia benar-benar mengucapkan kata-kata keras itu kepada Netanyahu, jawaban Trump tidak berputar-putar.

“Saya memang mengatakannya,” ujar Trump tegas. “Saya agak kesal dengan tindakannya yang terus berperang dengan Lebanon. Saya bilang, kita harus menghentikan ini.'”

Dari Telepon Panas ke Gencatan Senjata

Dua kepala negara itu sebelumnya terlibat cekcok melalui panggilan telepon. Trump kehilangan kesabaran karena Netanyahu menolak menghentikan serangan ke Lebanon dan justru berencana meningkatkan operasi militer Israel.

Percakapan panas itu ternyata membuahkan hasil. Trump mengungkapkan bahwa percakapannya dengan Netanyahu menghasilkan kesepakatan untuk membatalkan rencana operasi militer ke Beirut. “Saya melakukan panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Israel Bibi Netanyahu, dan tidak akan ada pasukan yang masuk ke Beirut,” ujar Trump.

Israel dan Lebanon akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Kesepakatan itu berlaku efektif pada Kamis (16/4/2026) pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS setelah komunikasi Trump dengan Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.

Netanyahu Merespons: Akui Beda Pendapat tapi Tetap Kompak

Di sisi lain, Netanyahu tidak memilih konfrontasi terbuka. Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC International, ia menjawab pertanyaan jurnalis Sara Eisen yang mengutip perkataan Trump bahwa Netanyahu “bertindak gila.”

Netanyahu mengatakan bahwa ia dan Trump mungkin memiliki “ketidaksepakatan taktis” tentang bagaimana menjalankan perang, tapi “memiliki kesepakatan dalam banyak hal.” Ia kemudian menegaskan Iran sebagai ancaman eksistensial bagi Israel dan AS, serta menekankan betapa pentingnya mencegah Republik Islam mengembangkan senjata nuklir.

Netanyahu tampak memilih untuk tidak memperbesar perselisihan sebuah langkah kalkulatif di tengah ketergantungan Israel yang sangat besar terhadap dukungan politik dan militer Washington.

Kabinet Israel Marah di Belakang Layar

Namun di balik sikap tenang Netanyahu di depan kamera, suasana di dalam pemerintahannya jauh dari damai. Jajaran menteri dalam kabinet Netanyahu dilaporkan marah soal pengumuman gencatan senjata Lebanon yang disampaikan Trump. Netanyahu hanya memberitahukan soal gencatan senjata itu kepada kabinet keamanannya via telepon tanpa menggelar voting seperti biasanya. Panggilan telepon itu hanya berlangsung beberapa menit dan terbatas pada pemberian informasi kepada para menteri.

Netanyahu menekankan bahwa gencatan senjata itu berlaku atas permintaan Trump, sementara pasukan Israel akan tetap berada di posisi mereka.

Tekanan Domestik AS: Midterm dan Harga Minyak

Di balik kemarahan Trump kepada Netanyahu, terdapat kalkulasi politik domestik yang tak kalah penting. Komentar Trump tentang panggilan telepon kepada Netanyahu dinilai menandai adanya tekanan besar yang ia hadapi untuk menyelesaikan perang Iran. Perang AS-Iran telah menyebabkan lonjakan harga energi dan ketidakpastian ekonomi di dalam negeri AS, yang mengancam prospek Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Trump tetap tidak memberikan kepastian tentang jangka waktu penyelesaian konflik AS-Iran. Ia menyatakan AS akan tetap memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran hingga libur Hari Buruh pada 7 September mendatang, dan bersikeras agar Iran menghentikan semua upaya yang dapat mengarah pada pengembangan senjata nuklir.

Menariknya, Trump menutup kontroversi ini dengan pernyataan yang terasa kontradiktif. Ia menegaskan dirinya memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan Netanyahu. “Kami bekerja sama dengan baik… Saya sangat menyukai Bibi,” ujarnya.

Bagi para pengamat geopolitik, pernyataan itu mencerminkan watak hubungan AS-Israel yang sesungguhnya: tidak pernah setara, tidak pernah sepenuhnya bebas dari tekanan, namun juga tidak pernah benar-benar putus sekeras apa pun kata-kata yang terucap di antara keduanya.

#TrumpNetanyahu #GeopolitikTimurTengah #GencatanSenjataLebanon #PerangIran2026 #Hizbullah #IsraelLebanon #DonaldTrump #BenjaminNetanyahu #DiplomacyFail #TimurTengah #PerangAS #CNBCInternational #SaraEisen #KonflikGlobal #NuklirIran