Sleman — Warga di kawasan Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dibuat geger setelah aparat kepolisian menemukan belasan bayi yang dirawat di sebuah rumah milik keluarga bidan. Temuan tersebut langsung memicu penyelidikan mendalam karena dinilai tidak lazim dan menimbulkan banyak pertanyaan terkait legalitas pengasuhan bayi-bayi itu.
Petugas dari Polresta Sleman bersama dinas sosial dan tenaga kesehatan kemudian mengevakuasi total 11 bayi dari rumah tersebut pada Jumat (8/5/2026). Sebagian bayi langsung mendapat penanganan medis karena mengalami gangguan kesehatan.
Menurut hasil penyelidikan awal, bayi-bayi tersebut diketahui berada di bawah pengasuhan seorang bidan berinisial ORP bersama kedua orang tuanya dan seorang asisten rumah tangga. Polisi mengaku curiga setelah menerima laporan adanya banyak bayi yang dirawat dalam satu rumah di kawasan permukiman warga.
Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menjelaskan, kondisi itu dianggap janggal karena jumlah bayi yang diasuh cukup banyak dan tidak sesuai dengan pola pengasuhan normal pada umumnya.
Rumah tersebut diketahui baru digunakan sekitar satu minggu terakhir. Sebelumnya, para bayi dirawat di wilayah Banyuraden, Gamping, tempat praktik persalinan bidan tersebut berlangsung.
Hasil pendalaman sementara mengungkap bahwa sebagian besar bayi tersebut lahir dari hubungan di luar pernikahan. Polisi menyebut para orang tua bayi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pekerja.
Menurut keterangan sementara, beberapa ibu memilih menitipkan bayinya karena alasan sosial, tekanan keluarga, hingga kesibukan pribadi. Awalnya hanya satu bayi yang dititipkan, namun jumlahnya terus bertambah dalam beberapa bulan terakhir.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa seluruh orang tua bayi yang berhasil diidentifikasi masih terus dimintai keterangan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pelanggaran hukum.
Dari 11 bayi yang ditemukan, tiga bayi sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung bawaan, hernia, dan gangguan kuning pada bayi.
Polisi menyebut dua bayi kini dilaporkan membaik, sementara satu lainnya masih membutuhkan pemantauan medis lebih lanjut. Selain itu, dua bayi telah diambil kembali oleh pihak yang mengaku sebagai orang tua kandung.
Enam bayi lainnya saat ini berada dalam pengawasan Dinas Sosial Sleman untuk mendapatkan perlindungan dan penanganan lanjutan.
Meski belum ada tersangka yang ditetapkan, polisi memastikan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif. Aparat kini mendalami kemungkinan adanya unsur:
- penelantaran anak
- praktik adopsi ilegal
- perdagangan bayi
- hingga pelanggaran administrasi kesehatan dan perlindungan anak.
Sebanyak 11 orang telah diperiksa, termasuk bidan ORP, kedua orang tuanya, pengasuh bayi, dan beberapa orang tua kandung bayi.
Polisi menegaskan belum dapat menyimpulkan adanya tindak pidana sebelum seluruh proses pendalaman selesai dilakukan.
Saat aparat dan wartawan mendatangi lokasi rumah di Pakem, suasana terlihat sepi dan tertutup. Namun di sekitar rumah masih tampak jemuran pakaian bayi, popok, serta perlengkapan kebutuhan bayi lainnya.
Sejumlah warga sekitar memilih bungkam ketika dimintai keterangan. Mereka mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas di rumah tersebut karena penghuni rumah cenderung tertutup.
Kasus penemuan 11 bayi ini langsung menjadi perhatian luas masyarakat karena menyangkut isu sensitif seperti kehamilan di luar nikah, perlindungan anak, hingga dugaan praktik pengasuhan ilegal.
Pengamat perlindungan anak menilai kasus ini harus ditangani secara hati-hati agar hak-hak bayi tetap terlindungi sekaligus memastikan tidak ada praktik ilegal yang berlangsung di balik penitipan tersebut.
Penemuan 11 bayi di rumah seorang bidan di Sleman membuka banyak pertanyaan yang kini tengah didalami aparat kepolisian. Meski sementara disebut sebagai penitipan bayi oleh para orang tua, polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya unsur pidana di balik praktik tersebut.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan sosial, tekanan keluarga, dan minimnya dukungan terhadap ibu muda masih menjadi persoalan serius yang dapat berujung pada situasi rumit dan berisiko bagi keselamatan anak.






