RUPIAH TERSUNGKUR! DOLAR AS TEMBUS Rp. 17.500, REKOR TERBURUK DALAM SEJARAH INDONESIA

Ekonomi, Fokus12 Dilihat

Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali terpukul hingga menyentuh level psikologis Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah menyentuh titik terendah dan benar-benar mengguncang seluruh kancah keuangan nasional.

Tadi pagi, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp17.503 per dolar AS, namun agak seperti rollercoaster. Bahkan sejumlah bank sudah mulai menjual dolar AS di atas level Rp17.600 karena tingginya permintaan valas dari masyarakat dan pelaku usaha.

Anjloknya nilai mata uang Garuda secara tiba-tiba menarik perhatian semua orang karena dapat sangat mempengaruhi harga barang yang kita bawa, biaya pembuatannya, dan kondisi APBN.

Sejumlah ekonom memperkirakan jatuhnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh berbagai faktor global dan lokal yang terjadi pada waktu yang bersamaan

Alasan utamanya adalah meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah, khususnya perselisihan yang sedang berlangsung antara Iran, AS, dan Israel. Skenario ini menyebabkan lonjakan harga minyak global yang signifikan dan menjadikan dolar AS sebagai mata uang aman yang paling dicari di seluruh dunia.

Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, merasakan kesulitan karena harga minyak naik, sehingga mendorong peningkatan permintaan uang asing dan memberikan tekanan pada rupiah. Ditambah lagi, tingginya suku bunga Bank Sentral AS membuat investor global lebih condong ke aset-aset dolar AS dibandingkan aset-aset di negara-negara berkembang. Situasi ini menyebabkan uang dari luar meninggalkan pasar saham dan obligasi kita.Dari dalam negeri, pasar juga merasakan dampak buruk dari investasi di Indonesia

Pengamat ekonomi menilai kajian indeks MSCI dan peringatan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch turut berkontribusi menurunkan kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi rupiah.

Saat ini, investor asing lebih berhati-hati dalam memasukkan dananya ke pasar Indonesia karena meningkatnya ketidakpastian di seluruh dunia dan kemungkinan melemahnya mata uang.

Tekanan jual rupiah meningkat belakangan ini

Bank Indonesia (BI) menyatakan akan mengambil langkah besar di pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil. Gubernur Perry Warjiyo menekankan bahwa bank sentral akan terus melangkah ke pasar domestik dan luar negeri untuk menghindari penurunan nilai yang terlalu tajam.

BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS untuk menekan spekulasi di pasar valuta asing.

Kebijakan baru ini mengurangi jumlah dolar yang boleh dibeli tanpa menunjukkan dokumen yang lengkap, bertujuan untuk menjaga permintaan dolar tetap terkendali. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan rupiah ke Rp 17.500 per dolar AS bisa berdampak serius pada kondisi APBN 2026.

Penurunan nilai tukar akan menaikkan harga pembayaran utang pemerintah dari luar negeri, pembelian energi, dan belanja barang-barang yang dihargai dalam dolar AS.Di sisi masyarakat, melemahnya nilai tukar rupiah juga bisa menjadi penyebabnya:

  • harga barang impor naik
  • harga barang elektronik dan gadget semakin meningkat.
  • tiket pesawat lebih mahal
  • harga bahan baku industri melonjak
  • memicu inflasi pada berbagai kebutuhan sehari-hari.

Pelaku usaha yang mempunyai pinjaman dalam dolar AS mungkin akan merasakan tekanan jika nilai tukar rupiah terus melemah

Meskipun nilai tukar rupiah mencapai titik terendahnya, sejumlah ekonom menilai situasi saat ini tidak seperti kekacauan uang pada tahun 1998.

Cadangan devisa Indonesia masih cukup solid, sektor perbankan baik-baik saja, dan pengawasan keuangan telah meningkat pesat sejak krisis terakhir.

Namun anjloknya nilai tukar rupiah secara cepat masih dianggap berisiko jika tidak segera ditangani karena dapat mengganggu perekonomian negara dan mempersulit masyarakat untuk membeli barang.

Para analis memperkirakan pergerakan rupiah di masa depan masih akan sangat terkait dengan apa yang terjadi di seluruh dunia, khususnya:

  • Konflik Timur Tengah
  • arah kebijakan suku bunga AS
  • harga minyak dunia
  • Dan ketika ketegangan antara Iran dan AS memanas, kita bisa memperkirakan rupiah akan terus merasakan panasnya

Jika keadaan mulai mereda di kancah global dan The Fed memberi isyarat bahwa mereka mungkin akan menurunkan suku bunga, maka rupiah akan kembali mendapatkan pijakannya.

Nilai tukar rupiah yang anjlok ke level Rp17.500 per dolar AS merupakan tanda bahaya besar bagi perekonomian Indonesia. Gabungan antara ketegangan dunia, kenaikan dolar AS, dan tekanan pasar lokal benar-benar membuat uang Garuda terpuruk.Meskipun pemerintah dan Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah rencana stabilisasi, pasar masih gelisah dan menunggu apakah tekanan global akan mereda atau akan menjadi lebih sulit lagi.