Musi Rawas Utara — Kecelakaan maut antara bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, menyisakan duka mendalam. Di balik tragedi yang menewaskan belasan orang itu, terungkap bahwa dua korban dari pihak truk tangki merupakan keluarga dekat Bupati Muratara, Devi Suhartoni.
Korban diketahui bernama Aryanto (49) dan Martono (48), yang bekerja sebagai sopir dan kernet truk pengangkut BBM. Keduanya berasal dari Desa Belani dan disebut masih memiliki hubungan keluarga dengan sang bupati.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Rabu siang, 6 Mei 2026, di kawasan Jalinsum Simpang Danau, Kecamatan Karang Jaya, Muratara. Berdasarkan laporan awal, bus ALS yang melaju dari arah Lubuklinggau menuju Jambi diduga mengambil jalur lawan setelah berusaha menghindari lubang di jalan. Dalam waktu hampir bersamaan, dari arah berlawanan melaju truk tangki BBM sehingga tabrakan keras tak terelakkan.
Benturan tersebut langsung memicu kebakaran besar. Api dengan cepat melahap kedua kendaraan hingga sebagian korban sulit dikenali.
Data sementara menyebut sedikitnya 16 orang meninggal dunia dalam insiden itu. Sebagian besar korban berasal dari penumpang bus ALS, termasuk kru bus, sementara dua korban lainnya merupakan sopir dan kernet truk tangki BBM.
Selain korban meninggal, beberapa penumpang lain mengalami luka serius akibat luka bakar dan langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.
Bupati Devi Suhartoni mengatakan pihaknya selama ini sudah berkali-kali mengingatkan kendaraan lintas Sumatera agar tidak melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati wilayah Muratara.
Menurutnya, kondisi jalan yang banyak berlubang sering membuat pengendara refleks menghindar dan berisiko masuk ke jalur berlawanan. Pemerintah daerah bersama kepolisian disebut telah melakukan penambalan di sejumlah titik, meski belum bisa memperbaiki seluruh ruas secara menyeluruh karena keterbatasan anggaran nasional.
Ketua Komisi V DPR RI juga meminta investigasi menyeluruh dilakukan, termasuk mengevaluasi kondisi infrastruktur jalan yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Pasca kecelakaan, Kementerian Perhubungan mengungkap bahwa bus ALS yang terlibat dalam kecelakaan maut tersebut diduga memiliki persoalan administratif terkait izin operasional. Temuan ini menambah sorotan terhadap standar keselamatan transportasi darat, khususnya bus antarkota lintas provinsi.
Pihak ALS sendiri menyatakan masih menunggu hasil investigasi resmi dari kepolisian dan KNKT terkait penyebab pasti kecelakaan.
Tragedi ini juga menyisakan cerita pilu dari para korban. Salah satu keluarga penumpang mengungkap bahwa anak, menantu, dan cucunya ikut menjadi korban saat hendak merantau ke Pekanbaru untuk bekerja di perkebunan sawit. Perjalanan yang semula diharapkan menjadi awal kehidupan baru justru berakhir tragis di tengah perjalanan.
Hingga kini aparat kepolisian bersama KNKT masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab utama kecelakaan, termasuk dugaan faktor:
- kondisi jalan rusak
- kecepatan kendaraan
- kelayakan armada
- serta kemungkinan kelalaian pengemudi.
Pemerintah daerah juga terus membantu proses pendataan korban serta pendampingan keluarga yang terdampak tragedi tersebut.
Kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki BBM di Muratara menjadi salah satu tragedi transportasi paling mematikan tahun 2026 di Sumatera Selatan. Selain menewaskan 16 orang, insiden ini juga menyentuh sisi personal karena dua korban dari pihak truk ternyata masih keluarga Bupati Muratara.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keselamatan transportasi, kondisi jalan nasional, dan pengawasan ketat terhadap armada angkutan umum demi mencegah tragedi serupa terulang kembali.






