Bukan Sekadar Duka Cita Geopolitik di Balik Utusan Prabowo ke Pemakaman Khamenei

Jakarta – Ketika jutaan orang Iran tumpah ruah mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei, Indonesia memilih hadir dengan delegasi yang tidak main-main: Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Menteri Luar Negeri Sugiono. Keputusan ini menyimpan sinyal diplomatik yang layak dibaca lebih dalam.

Dari Dubes ke Delegasi Tinggi

Mula-mula pemerintah Indonesia hanya berencana mengirim Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, sebagai wakil resmi dalam rangkaian penghormatan kepada mendiang pemimpin tertinggi Iran yang mangkat dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 silam.

Namun rencana itu berubah ketika pihak Iran menyampaikan bahwa akses hanya akan diberikan kepada pejabat di atas level duta besar.

“Kita mendapatkan konfirmasi bahwa pihak Iran hanya akan memberi akses kepada pejabat di atas dubes,” kata Menlu Sugiono di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (6/7/2026).

Presiden Prabowo pun mengambil keputusan: menaikkan level utusan ke dua pejabat negara yang keduanya berasal dari Partai Gerindra Sugiono dan Ahmad Muzani.

Muzani: Representasi Resmi Pemerintah dan Rakyat Indonesia

“Saya sebagai Ketua MPR RI bersama Menteri Luar Negeri Sugiono diutus oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri acara prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei di Masyhad, Iran pada Kamis 9 Juli 2026,” tulis Muzani melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (7/7/2026).

Muzani menegaskan kehadiran delegasi bukan sekadar penghormatan pribadi. “Kehadiran kami merupakan representasi resmi pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia yang turut berduka cita atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran,” ujarnya.

Pemakaman dijadwalkan berlangsung di Imam Reza Shrine, Masyhad — kota kelahiran Khamenei dan salah satu situs paling suci bagi umat Muslim Syiah — usai rangkaian prosesi yang melewati Teheran, Qom, serta kota-kota suci di Irak, Najaf dan Karbala.

Koordinasi Teknis Belum Tuntas

Di balik keputusan tinggi ini, koordinasi lapangan masih berjalan. Sugiono mengakui delegasi Indonesia masih menunggu kepastian teknis dari pihak Iran soal lokasi dan waktu penerimaan.

“Karena penghormatan terhadap beliau sangat besar, massa juga sangat besar di sana, pihak Iran masih mencoba mencari titik atau lokasi untuk menerima kunjungan ini,” ujar Sugiono.

Jumlah pelayat memang mencengangkan. Sebelum pemakaman, 20 juta orang dilaporkan memadati Kompleks Musala Imam Khomeini di Teheran salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah modern Iran.

Kritik di Dalam Negeri: Prosedur MPR Dilangkahi

Keputusan mengutus Ketua MPR langsung oleh Presiden tidak luput dari kritik. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, mempertanyakan prosedur penugasan tersebut.

“Kayak enggak belajar tata negara saja lah,” kata Bambang Pacul kepada wartawan di Kompleks DPR/MPR, Selasa (7/7/2026).

Bambang Pacul menjelaskan Ahmad Muzani seharusnya lebih dahulu menggelar rapat pimpinan MPR sebelum berangkat, dan Presiden seharusnya melakukan rapat konsultatif dengan pimpinan MPR jika ingin mengutus Ketua MPR. “Muzani tidak dapat berangkat dalam kapasitas sebagai ketua MPR maupun kader Partai Gerindra,” tegasnya.

Sinyal Geopolitik: Indonesia di Antara Dua Kubu

Keputusan Prabowo menghadiri pemakaman pemimpin negara yang ditembak mati oleh AS bukan tanpa kalkulasi. Iran sendiri dilaporkan menuding AS mengintimidasi sejumlah negara untuk memboikot upacara pemakaman.

Di sisi lain, Indonesia dalam beberapa bulan terakhir juga menerima kunjungan PM India Narendra Modi dan baru saja menyelesaikan Leaders’ Retreat dengan PM Singapura Lawrence Wong. Kehadiran di Masyhad mencerminkan kebijakan luar negeri bebas aktif yang memilih hadir di semua meja tanpa memilih blok.

#PemakamanKhamenei #AhmadMuzani #MenluSugiono #PrabowoDiplomacy #BebasAktif #IranIndonesia #MasyshadIran #DelegasiRI #GeopolitikIndonesia #AyatollahKhamenei #DipomacyRI #MPRIndonesia #BambangPacul #PolitikLuarNegeri #IranAS2026