Diteriaki Perampok Tiga Polisi Tewas Diparang Usai Gerebek Bandar Sabu di Kalimantan Tengah

Fokus, Hukum, Nasional240 Dilihat

Jakarta – Tengah malam, 1 Juli 2026, pukul 01.00 WIB. Dua belas personel Satresnarkoba Polres Katingan bergerak senyap menuju Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kalimantan Tengah. Sasaran mereka: seorang residivis narkoba berinisial BIO yang diduga mengendalikan jaringan distribusi sabu di kawasan terpencil berjarak 125 kilometer dari ibu kota kabupaten. Tak ada yang menduga malam itu berakhir dengan tiga peti mati.

Operasi Sesuai Prosedur Direspons dengan Provokasi

Tim yang dipimpin Kasatresnarkoba AKP Affan Effendi dibagi menjadi dua kelompok. Tim 1 mendatangi rumah target, Tim 2 berjaga di sekitar SMP terdekat. Saat petugas memperkenalkan diri secara resmi dan menunjukkan surat tugas, target berhasil diamankan.

Namun situasi berbalik drastis dalam hitungan detik.

“Anggota sudah memperkenalkan diri sebagai anggota kepolisian dan menunjukkan surat tugas. Namun direspons dengan teriakan bahwa yang datang adalah perampok,” ungkap Komisioner Kompolnas Choirul Anam dalam konferensi pers di Mapolda Kalteng, Selasa (7/7/2026).

Teriakan “perampok” dari keluarga pelaku membakar warga sekitar. Massa berdatangan dengan senjata tajam. Dua pria menyerang Kasatresnarkoba AKP Affan dengan parang. Aiptu Sumariyanto melepas tembakan peringatan diabaikan. Serbuan massa terus berlanjut dan menghantam Tim Polres Katingan yang kalah jumlah. Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan menegaskan: “Pada saat melakukan penindakan itu kita sudah lakukan sesuai dengan prosedur yang ada.”

Tiga Nama, Tiga Cara Wafat yang Berbeda

Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal di lokasi kejadian dengan luka sabetan senjata tajam di kepala. Ia yang pertama ditemukan, yang pertama juga menghadap Yang Maha Kuasa.

Bripda Nopandri Ramadhana hilang usai bentrokan. Dua hari pencarian menyisir hutan dan aliran sungai jenazahnya ditemukan di Daerah Aliran Sungai Katingan, di seberang Desa Tumbang Lahang, Sabtu (4/7/2026) pukul 15.55 WIB.

Aiptu Sumaryanto menyusul. “Telah ditemukannya satu jenazah atas nama Aiptu Sumaryanto,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso. Tubuhnya terapung di Sungai Desa Tumbang Kalemei, Minggu (5/7/2026), empat kilometer dari titik bentrokan.

Tiga Tersangka Ditangkap Bandar Utama Masih Buron

Polres Katingan bergerak cepat. Tiga tersangka penyerangan berinisial N, R, dan S yang saling berkerabat berhasil ditangkap di sekitar Katingan Tengah pada Minggu (5/7/2026).

Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono menjelaskan peran masing-masing tersangka. “Ini yang dikenakan pasal penganiayaan berat untuk tersangkanya berinisial N,” paparnya. Sedangkan tersangka S membawa senjata tajam saat bentrokan.

Sementara itu, target utama operasi, bandar sabu BIO yang oleh Kompolnas disebut sebagai “jaringan penting dalam narkoba,” masih berkeliaran.

DPR: Hukum Berat. Ombudsman: Evaluasi SOP

Anggota Komisi III DPR Martin Daniel Tumbelaka tidak menyembunyikan amarah. “Ini adalah tindakan yang sangat biadab. Saya meminta pihak kepolisian untuk segera memburu dan menangkap seluruh pelaku penyerangan tanpa terkecuali. Tidak boleh ada kompromi bagi pembunuh aparat negara,” kata Martin, Minggu (5/7/2026).

Sementara Ombudsman RI Perwakilan Kalteng, Raden Biroum Bernardianto, memilih suara yang berbeda. “Ombudsman mendorong Polda Kalteng dan Polres jajaran untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) penindakan,” ujarnya.

Ia meminta peningkatan mitigasi risiko, kecukupan personel, kesiapan alat pelindung diri, dan akurasi intelijen lapangan. “Peristiwa ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa jaringan pengedar narkoba saat ini semakin berani melakukan perlawanan terbuka dan brutal terhadap aparat hukum,” tegas Biroum.

Kenaikan Pangkat Luar Biasa dan Pertanyaan yang Tersisa

Brigjen Eko menegaskan: “Tim masih terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga terlibat. Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.”

Kapolri memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada ketiga anggota yang gugur sebagai penghormatan terakhir negara.

Namun pertanyaan besar tetap tergantung: bagaimana jaringan sabu bisa begitu berakar kuat di desa terpencil hingga berani menggempur satu tim polisi? Seberapa dalam jaringan BIO menancap di Katingan Tengah? Dan apakah kematian tiga perwira ini akan mengubah cara negara berperang melawan narkoba atau hanya menjadi tragedi yang segera dilupakan?

#PolisiGugurKalteng #OperasiNarkobaKatingan #AipdaYudhie #BripdaNopandri #AiptuSumariyanto #TumbangKalemei #BandarSabu #PolresKatingan #BareskrimPolri #Kompolnas #PemberantasanNarkoba #NarkobaKalteng #PolriGuardian #SabukutihanKalteng #TragediKatingan