Iran Bantah Klaim AS IRGC Kehabisan Dana Gaji Prajurit

TEHERAN — Pemerintah Iran membantah tegas klaim Amerika Serikat yang menyebut perekonomian negara tersebut berada di ambang kehancuran, menyusul pernyataan pejabat militer AS bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kini kesulitan membayar gaji para prajuritnya.

Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengungkap bahwa Washington berhasil mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai setidaknya 25 miliar dolar Amerika Serikat, sekaligus membekukan aset mata uang kripto senilai sekitar 350 juta dolar AS. Berbicara kepada Al Jazeera, Selasa, 20 Oktober 2026, Cooper mengklaim tekanan finansial terhadap militer Iran kini begitu besar, hingga sejumlah kelompok milisi sekutu Iran di berbagai wilayah dilaporkan menahan pembayaran kepada pasukan mereka sendiri demi mengalirkan dana kembali ke IRGC, yang pada akhirnya juga tidak mampu menggaji pasukannya sendiri. Cooper menggambarkan kondisi ini sebagai kemenangan bagi Washington dalam konflik yang selama ini minim capaian nyata bagi pihaknya.

Selama beberapa dekade, Pasukan Quds di bawah IRGC memang berperan memasok dana, senjata, komponen, pelatihan, hingga keahlian manufaktur kepada jaringan kelompok sekutu Iran di kawasan Timur Tengah, mulai dari Hizbullah di Lebanon hingga Houthi di Yaman. Analis pertahanan Michael Knights mengungkap bahwa perekonomian domestik yang menopang Hizbullah dan Houthi kini dalam kondisi sangat tertekan, meski keduanya tetap menerima bantuan tunai maupun dalam bentuk barang seperti bahan bakar dari Iran. Ia bahkan mengungkap adanya aliran dana dari milisi dan pegawai pemerintah Irak yang justru dialirkan ke Iran, Houthi, dan Hizbullah Lebanon, meski pembayaran bagi milisi dan pegawai tersebut sendiri kerap tersendat.

Meski mengakui tantangan finansial akibat sanksi dan dampak perang, otoritas Iran menegaskan negaranya tetap mampu bertahan dan melanjutkan dukungan kepada sekutu regionalnya. Salah satu strategi domestik yang ditempuh adalah manajemen konsumsi bahan bakar, yang diklaim berhasil menghapus kebutuhan impor bensin senilai 12 miliar dolar AS.

Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, menilai meski tekanan ekonomi membatasi sumber daya militer Iran, hal itu tidak serta-merta mengubah kalkulasi strategis IRGC maupun memaksa Teheran menyerah. Pandangan ini diperkuat analis Knights, yang mengingatkan bahwa taruhan Presiden Donald Trump bahwa kemiskinan akan melunakkan sikap rezim Iran selama ini jarang terbukti berhasil.

Perbedaan tajam narasi antara Washington dan Teheran ini menegaskan bagaimana kedua pihak sama-sama berupaya membentuk persepsi publik soal siapa yang sesungguhnya unggul dalam konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 tersebut.

#Iran #AmerikaSerikat #IRGC #BradCooper #KonflikASIran #Hizbullah #Houthi #SanksiEkonomiIran #CENTCOM #BeritaInternasional