Meski Berpihak ke Teheran Rusia Justru Petik Untung dari Perang Iran

Fokus, Internasional72 Dilihat

MOSKOW — Di balik dukungan politik terbuka yang ditunjukkan Rusia kepada Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel, Moskow justru menuai berbagai keuntungan nyata, mulai dari lonjakan pendapatan ekspor energi hingga penguatan posisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang tatanannya tengah bergeser.

Perang yang dimulai 28 Februari 2026 lewat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, termasuk penghapusan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan tersebut, secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent, patokan minyak internasional, melonjak menembus 100 dolar Amerika Serikat per barel usai Selat Hormuz tertutup, jauh di atas level sekitar 65 dolar sebelum konflik pecah.

Lonjakan harga tersebut justru memaksa pemerintah Amerika Serikat melonggarkan sanksi terhadap sejumlah negara pembeli minyak Rusia, demi menambah pasokan global dan menahan laju kenaikan harga. Lembaga riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat Rusia meraup tambahan pendapatan sekitar 777 juta dolar AS, atau setara Rp13,15 triliun, hanya dalam dua pekan pertama perang berlangsung.

Analis energi independen George Voloshin menyebut Rusia sebagai pihak yang paling diuntungkan dari kekosongan pasokan akibat tertutupnya Selat Hormuz. Pandangan senada disampaikan Igor Yushkov, analis Financial University yang berafiliasi dengan pemerintah Rusia, yang menegaskan konflik tersebut menciptakan kondisi menguntungkan bagi pendapatan ekspor energi Moskow. Momentum ini turut membuka pasar baru bagi Rusia, khususnya India, yang terpaksa mengalihkan sebagian pembelian minyaknya dari Timur Tengah ke pasokan Rusia dengan harga kompetitif pada kisaran 4 hingga 5 dolar AS di atas patokan Brent.

Dampak positif ini berlanjut hingga April 2026, ketika harga minyak mentah andalan Rusia, Urals, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 13 tahun, mencapai 116,05 dolar AS per barel di pelabuhan ekspor utamanya di Baltik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari asumsi 59 dolar AS per barel dalam anggaran negara Rusia tahun ini, sehingga turut meringankan beban fiskal Kremlin di tengah pembiayaan perang yang masih berlangsung di Ukraina.

Sikap dukungan Rusia terhadap Iran kembali ditegaskan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran. Araghchi bahkan menyebut kerja sama kedua negara belum pernah seerat saat ini. Namun di balik retorika solidaritas tersebut, posisi Rusia tetap pragmatis, mengingat setiap kenaikan harga minyak akibat konflik turut menambah pundi-pundi pendapatan negara sekaligus meringankan tekanan sanksi Barat terhadap sektor energinya.

Rusia sendiri selama ini dikenal sebagai pemasok senjata dan mitra strategis utama Iran, sehingga perang berkepanjangan ini sekaligus menjadi panggung bagi Moskow memperluas pengaruh di kawasan Timur Tengah yang peta kekuatannya terus berubah akibat konflik berkepanjangan tersebut.

#RusiaIran #KonflikASIran #HargaMinyakDunia #SelatHormuz #SergeiLavrov #SanksiRusia #MinyakUrals #GeopolitikTimurTengah #AbbasAraghchi #BeritaInternasional