Iran Tegaskan Siap Perang Total Jika Kembali Diserbu

Fokus, Internasional44 Dilihat

TEHERAN — Iran kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel, menegaskan kesiapan penuh menghadapi skenario invasi baru lewat strategi pertahanan yang digambarkan menyeluruh dan berlapis di segala lini.

Seorang pejabat senior keamanan Iran mengungkap kepada Press TV, Rabu, 14 Oktober 2026, bahwa Teheran telah mengambil keputusan tegas untuk merespons setiap tindakan agresi musuh tanpa batasan apa pun. Ia menegaskan angkatan bersenjata Iran sepenuhnya siap menghancurkan kepentingan dan sasaran strategis para penyerang beserta sekutunya di seluruh kawasan, tanpa membatasi diri pada satu bentuk respons tertentu saja.

Pernyataan ini melanjutkan rangkaian ancaman serupa yang dilontarkan pejabat Iran dalam beberapa bulan terakhir. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, sebelumnya sempat menegaskan bahwa jika musuh kembali salah perhitungan dengan memulai agresi, mereka akan menghadapi metode perang baru yang tak terduga, mencakup peralatan lebih canggih dan medan pertempuran yang sulit diprediksi lawan. Ancaman lain datang dari seorang pejabat keamanan senior lain yang mengungkap kepada Tasnim bahwa Teheran telah menyiapkan rencana komprehensif menyasar infrastruktur vital Israel beserta kepentingan energi Amerika Serikat di kawasan, sembari menegaskan kesiapan dan kemampuan nyata berdasarkan pengalaman selama perang 40 hari maupun bentrokan beberapa pekan terakhir.

Kesiapan militer ini turut ditopang mobilisasi pasukan darat berskala besar, dengan sumber militer Iran mengungkap lebih dari satu juta pejuang telah disiapkan mengantisipasi kemungkinan invasi darat, khususnya apabila Amerika Serikat memperluas operasi militernya ke wilayah selatan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut menyampaikan posisi tersebut secara langsung kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memicu eskalasi, sembari menyoroti dampak serangan terhadap target sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan kawasan permukiman sepanjang konflik berlangsung.

Rangkaian ancaman militer ini muncul bersamaan dengan perang narasi ekonomi antara kedua negara. Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, sebelumnya mengklaim tekanan finansial akibat sanksi dan blokade telah membuat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kesulitan membayar gaji prajuritnya. Namun Teheran menepis klaim tersebut, dengan tetap mengakui adanya tantangan finansial akibat sanksi dan perang yang berkepanjangan sejak 28 Februari 2026.

Kombinasi antara kesiapan militer skala besar dan narasi ekonomi yang saling bertentangan ini menegaskan bahwa konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih jauh dari kata selesai, dengan kedua pihak sama-sama berupaya menampilkan posisi kekuatan terkuat di hadapan publik domestik maupun internasional.

#Iran #AmerikaSerikat #Israel #PerangTotal #IRGC #MohammadAkraminia #AbbasAraghchi #InvasiIran #GeopolitikTimurTengah #BeritaInternasional