Bahlil Tawarkan 35 GW Listrik Air untuk Rayu Investor Data Center

Fokus, Nasional404 Dilihat

TANGERANG — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia gencar mempromosikan potensi listrik hijau Indonesia sebagai daya tarik utama bagi investor pusat data global, di tengah lonjakan kebutuhan energi industri digital yang terus membesar dari tahun ke tahun.

Ajakan tersebut disampaikan Bahlil saat membuka forum Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Selasa, 22 September 2026, yang dihadiri ribuan delegasi, investor, pelaku usaha, hingga akademisi dari dalam dan luar negeri. Ia menyoroti tekanan yang mulai dirasakan sejumlah negara dalam memenuhi kebutuhan energi, khususnya energi baru terbarukan, seiring pesatnya ekspansi industri digital dan pusat data di seluruh dunia.

Sebagai modal jualan, Bahlil menonjolkan potensi pembangkit listrik tenaga air raksasa yang belum tergarap optimal, yakni Sungai Mamberamo di Papua dengan estimasi kapasitas sekitar 23 gigawatt, serta Sungai Kayan di Kalimantan dengan potensi sekitar 12 gigawatt. Gabungan kedua sungai tersebut mencapai sekitar 35 gigawatt, jauh melampaui proyeksi kebutuhan listrik data center nasional. Ia menegaskan investor tak perlu ragu membangun pusat data di Indonesia, mengingat kekayaan sumber energi baru terbarukan negara ini mencakup potensi matahari, air, panas bumi, hingga angin di lebih dari 17 ribu pulau.

Namun di balik tawaran menggiurkan tersebut, tantangan besar tetap membayangi. Berdasarkan proyeksi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, kebutuhan listrik data center diperkirakan melonjak dari sekitar 1.098 megawatt pada 2025 menjadi 2.122 megawatt tahun ini, dan terus membengkak hingga 5.226 megawatt pada 2034, hampir lima kali lipat dalam satu dekade. Sementara itu, dari total potensi energi baru terbarukan nasional sebesar 3.687 gigawatt yang dicatat Kementerian ESDM, kapasitas yang benar-benar sudah terpasang hingga Juni 2026 baru sekitar 16,32 gigawatt, kesenjangan yang sangat lebar antara potensi teknis dan realisasi komersial.

Persoalan tak berhenti di situ. Lokasi sumber energi besar seperti Mamberamo dan Kayan berjarak jauh dari pusat pertumbuhan industri digital, sehingga pembangunan jaringan transmisi menjadi kunci penentu. Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan transmisi mencapai 47.758 kilometer sirkuit beserta gardu induk berkapasitas 107.950 megavolt-ampere, beriringan dengan target tambahan kapasitas pembangkit nasional sebesar 69,5 gigawatt hingga 2034, di mana sekitar 70 persennya diproyeksikan berasal dari energi baru terbarukan.

Sebagai gambaran skala peluang bisnis, Badan Koordinasi Penanaman Modal mengutip data Mordor Intelligence yang mencatat nilai pasar data center Indonesia sekitar 1,44 miliar dolar AS pada 2025, dan diproyeksikan tumbuh hingga 3,48 miliar dolar AS pada 2031. Kapasitas data center yang sudah terbangun di Indonesia saat ini tercatat sekitar 580 megawatt, dengan pipeline investasi tambahan sekitar 1,3 gigawatt bernilai 15 hingga 20 miliar dolar AS. Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa bahkan menyebut permintaan terhadap kapasitas pusat data begitu tinggi sehingga kapasitas baru yang dibangun berpotensi langsung terserap pasar.

Dengan kesenjangan antara potensi energi raksasa dan realisasi infrastruktur transmisi yang masih panjang, pertanyaan besar tetap mengemuka soal seberapa cepat Indonesia mampu mengubah janji listrik hijau menjadi pasokan nyata yang siap menyalakan server-server pusat data investor asing.

#BahlilLahadalia #ListrikHijau #DataCenterIndonesia #EnergiTerbarukan #ElectricityConnect2026 #PLTAMamberamo #PLTAKayan #RUPTLPLN #InvestasiEnergi #BeritaEkonomi