Trump Tolak Serang Houthi Tawarkan Bantuan Intelijen ke Saudi

Fokus, Internasional407 Dilihat

WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak permintaan langsung Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman agar militer AS turut menyerang kelompok Houthi di Yaman, namun sebagai gantinya menjanjikan dukungan lain berupa bantuan intelijen dan penentuan target.

Berdasarkan laporan Al Arabiya yang dikutip Sabtu, 12 September 2026, MBS diketahui telah berkomunikasi langsung dengan Trump sebanyak beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, di tengah koordinasi intensif antara Riyadh dan Washington menyikapi eskalasi situasi keamanan di Yaman. Reuters bahkan melaporkan bahwa MBS sempat menelepon Trump dua kali dalam sehari pada Kamis, 10 September, guna mendesak keterlibatan militer langsung Amerika Serikat melawan Houthi.

Sumber Al Arabiya English mengungkap bahwa meski menolak opsi serangan langsung, Trump berjanji kepada MBS bahwa Washington akan menyediakan dukungan intelijen serta bantuan penentuan sasaran terkait pergerakan Houthi. Komunikasi intensif ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya keterlibatan militer Amerika Serikat bersama Arab Saudi, seiring kemajuan signifikan yang dicapai kelompok Houthi yang didukung Iran di sepanjang garis pantai Yaman menghadap Laut Merah. Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dilaporkan telah tiba di Riyadh untuk bertemu langsung jajaran petinggi militer dan pejabat senior pemerintahan Saudi guna membahas langkah koordinasi lanjutan.

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menegaskan bahwa fokus utama Washington tetap pada perlindungan kepentingan keamanan nasionalnya sendiri, termasuk menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah, sembari mendorong mitra-mitra kawasan untuk mengambil peran lebih besar dalam menyelesaikan tantangan keamanan regional. Pejabat tersebut menegaskan dialog dengan Arab Saudi maupun pemerintah Republik Yaman terus berjalan demi menjaga stabilitas kawasan. Terpisah, laporan ABC News yang mengutip dua pejabat AS menyebutkan bahwa pemerintahan Trump saat ini belum memiliki rencana melancarkan aksi militer langsung terhadap Houthi, meski penilaian tersebut bisa berubah sewaktu-waktu jika ancaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah semakin meningkat.

Eskalasi konflik Yaman kali ini bermula awal Juli 2026, ketika Houthi mengklaim pasukannya berhadapan dengan jet tempur Saudi yang berupaya mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa. Sejak insiden tersebut, Houthi kembali gencar melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung komunitas internasional, sekaligus menyasar berbagai target di wilayah Arab Saudi. Kelompok yang disokong Iran ini turut mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi, disertai rentetan serangan baru terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah.

Dinamika ini menambah kompleksitas peta konflik di kawasan Timur Tengah, di tengah perang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang juga masih berlangsung di front lain, termasuk sengketa kendali atas Selat Hormuz yang turut melibatkan kepentingan strategis Arab Saudi sebagai salah satu kekuatan utama kawasan Teluk.

#DonaldTrump #ArabSaudi #Houthi #MohammedBinSalman #KonflikYaman #CENTCOM #BradCooper #LautMerah #GeopolitikTimurTengah #BeritaInternasional